Tampilkan postingan dengan label Karakter Bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karakter Bangsa. Tampilkan semua postingan
Kristalisasi Pendidikan Karakter untuk Menumbuhkan Sikap

Kristalisasi Pendidikan Karakter untuk Menumbuhkan Sikap

Pendidikan Karakter

Kristalisasi Pendidikan Karakter untuk Menumbuhkan Sikap

Pendidikan karakter adalah proses yang berorientasi pada tindakan untuk mengembangkan kualitas pribadi yang bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi masyarakat luas. Kualitas-kualitas tersebut meliputi kejujuran, integritas, kesopanan dan lain-lain. Pentingnya pendidikan karakter dapat diukur dari fakta bahwa pendidikan karakter memainkan peran yang signifikan dalam membentuk sikap dan nilai anak-anak pada tahap yang mudah dipengaruhi.


Pendidikan karakter bertujuan untuk menanamkan sifat-sifat positif pada siswa sehingga menjadikan mereka seseorang yang layak yang akan berkontribusi dalam membangun dunia yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan sesama makhluk hidup.


Pendidikan karakter bukan hanya tentang pembelajaran akademik. Pendidikan karakter mencakup prinsip-prinsip, nilai-nilai, etika dan keterampilan hidup. Pendidikan karakter mengajarkan anak-anak untuk membuat keputusan yang baik dengan membantu mereka memahami mana yang benar dan mana yang salah. Pendidikan karakter juga mengajarkan mereka untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dan konsekuensi dari tindakan tersebut. Pendidikan karakter mengajarkan anak-anak untuk bersikap baik dengan membantu mereka menjadi individu yang peduli dan menghargai perasaan orang lain. Pendidikan karakter mengajarkan anak-anak untuk bersikap hormat dengan mendorong mereka untuk menunjukkan kesopanan terhadap orang lain setiap saat. Pendidikan karakter mendorong kejujuran dengan mengajarkan kejujuran dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan sehingga para siswa tidak akan berbohong atau menipu untuk mendapatkan keuntungan materi atau pribadi.


Pendidikan karakter penting karena memberikan kerangka kerja kepada siswa untuk membuat keputusan yang baik sepanjang hidup mereka. Pendidikan karakter membantu siswa membuat keputusan yang baik sepanjang hidup merekPendidikan harus lebih dari sekadar akademis, dan pendidikan karakter menyediakan kerangka kerja non-akademis yang membantu mempersiapkan siswa untuk dunia nyata.


Pendidikan karakter penting karena memberikan kerangka kerja kepada siswa untuk membuat keputusan yang baik sepanjang hidup mereka. Pendidikan karakter membantu siswa membuat keputusan yang baik sepanjang hidup mereka. Pendidikan harus lebih dari sekadar akademis, dan pendidikan karakter menyediakan kerangka kerja non-akademis yang membantu mempersiapkan siswa untuk dunia nyata.


Pendidikan karakter dapat didefinisikan secara luas sebagai upaya untuk mengajar anak-anak dengan cara-cara yang akan membantu mereka berkembang secara beragam sebagai makhluk yang bermoral, berwarganegara, baik, sopan santun, berperilaku baik (dll.). Pendidikan karakter adalah istilah umum yang digunakan secara longgar untuk menggambarkan pengajaran anak-anak tentang nilai-nilai dan moral melalui cerita pribadi atau konten naratif. Program pendidikan karakter kemungkinan akan mencakup semacam sistem untuk mengukur atau melacak kemajuan siswa dalam mencapai tujuan tertentu.


Pendidikan karakter juga dapat melibatkan pengajaran kepada siswa bagaimana berperilaku dalam masyarakat dengan menekankan standar perilaku sosial daripada prestasi akademik sebagai tujuan utama sekolah. Banyak sekolah telah mengadopsi pendekatan ini sebagai cara untuk mengurangi penindasan dengan mempromosikan empati di antara siswa mereka. Salah satu penggunaan yang paling umum mengacu pada pendekatan yang menganjurkan pengajaran karakter 'baik' melalui pemodelan peran oleh guru dan penguatan positif.


Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara:

  1. Guru memiliki ekspektasi yang tinggi untuk semua siswa termasuk dirinya sendiri.
  2. Guru mencontohkan sendiri perilaku yang baik, dan memperkuatnya dengan pujian dan penghargaan (seperti hak istimewa).
  3. Guru memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membantu orang lain, seperti memastikan setiap orang mendapat kesempatan untuk pergi pertama atau terakhir selama kegiatan, dll.


Pendidikan karakter merupakan bagian penting dari kurikulum sekolah mana pun. Ketika anak-anak diajarkan nilai-nilai yang benar di usia muda, mereka akan mampu membuat keputusan yang baik sepanjang hidup dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab yang berkontribusi positif bagi masyarakat. Sekolah yang menawarkan program semacam ini akan membantu siswa mengembangkan kualitas pribadi yang lebih baik daripada sekolah yang tidak memiliki instruksi semacam itu di kelas mereka.


Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila


Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024:

 

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, seperti ditunjukkan oleh gambar berikut:

 

BERIMAN, BERTAQWA KEPADA TUHAN YME, DAN BERAKHLAK MULIA

Pelajar Indonesia yang berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan YME. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Elemen Kunci:

  • Akhlak beragama
  • Akhlak pribadi
  • Akhlak kepada manusia
  • Akhlak kepada alam
  • Akhlak bernegara

 

BERKEBHINEKAAN GLOBAL

Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnyam dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.

  • Elemen kunci:
  • Mengenal dan menghargai budaya
  • Kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama
  • Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebhinekaan

 

GOTONG ROYONG

Pelajar Indonesia memiliki kemampuan gotong royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah, dan ringan.

Elemen kunci:

  • Kolaborasi
  • Kepedulian
  • Berbagi

 

MANDIRI

Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya.

Elemen kunci:

  • Kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi
  • Regulasi diri

 

BERNALAR KRITIS

Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya.

Elemen kunci:

  • Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan
  • Menganalisis dan mengevaluasi penalaran
  • Merefleksi pemikiran dan proses berpikir
  • Mengambil keputusan

 

KREATIF

Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinil, bermakna, bermanfaat, dan berdampak.

Elemen kunci:

  • Menghasilkan gagasan yang orisinal
  • Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal 

Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Lingkungan Sekolah

Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Lingkungan Sekolah

 

Profil Pelajar Pancasila

Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Lingkungan Sekolah

Profil Pelajar Pancasila dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap pelajar melalui: budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

 

1. Budaya sekolah

Sebagai bagian dari budaya sekolah, 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila diintegrasikan ke dalam iklim sekolah, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di sekolah.

 

2. Pembelajaran intrakurikuler

Sebagai bagian dari pembelajaran intrakurikuler, 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila diintegrasikan dalam Capaian Pembelajaran, tujuan pembelajaran, atau materi/topik pembelajaran.

 

3. Pembelajaran kokurikuler (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila)

Sebagai bagian dari pembelajaran kokurikuler, 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila diintegrasikan dalam kegiatan projek yang diberikan.

 

4. Pembelajaran ekstrakurikuler

Sebagai bagian dari pembelajaran ekstrakurikuler, 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila diintegrasikan dalam kegiatan pengembangan minat dan bakat.

 

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Latar Belakang Profil Pelajar Pancasila

  • Pelajaran berbasis projek belum menjadi kebiasaan di sekolah-sekolah di Indonesia, sehingga perlu dukungan kebijakan pusat
  • Projek penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah terjemahan dari pengurangan beban belajar di kelas (intrakurikuler)
  • Alokasi waktu untuk satu mata pelajaran terbagi menjadi dua, intrakurikuler dan kokurikuler (projek penguatan Profil Pelajar Pancasila) agar beban ajar guru tidak berkurang. Jadi, Projek Profil Pelajar Pancasila adalah unit pembelajaran terintegrasi, bukan tematik.

Persiapan penerapan Profil Pelajar Pancasila

Guru

  • Mengatur pengelolaan jam pelajaran dan kolaborasi
  • Mengatur alokasi jam mengajar agar tetap sama
  • Menyiapkan sistem dari perencanaan hingga penilaian
  • Menyiapkan sistem pendokumentasian projek untuk dapat digunakan sebagai portofolio
  • Berkolaborasi dengan narasumber pengaya projek: masyarakat, komunitas, universitas, dan praktisi

Kemendikbud

  • Menentukan tema untuk setiap projek yang diimplementasi setiap satuan pendidikan

 

Pemerintah Daerah dan Satuan Pendidikan

  • Merancang muatan lokal berupa projek berdasarkan tema yang ditetapkan
  • Mengembangkan menjadi topik yang lebih spesifik dan kontekstual di satuan pendidikan

Definisi Profil Pelajar Pancasila

Definisi Profil Pelajar Pancasila



Definisi Profil Pelajar Pancasila - Profil Pelajar Pancasila merupakan sejumlah karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila.


Kegunaan Profil Pelajar Pancasila

  1. Menerjemahkan tujuan dan visi pendidikan ke dalam format yang lebih mudah dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan
  2. Menjadi kompas bagi pendidik dan pelajar Indonesia
  3. Tujuan akhir segala pembelajaran, program, dan kegiatan di satuan pendidikan


Dimensi dan Elemen Profil Pelajar Pancasila

Profil Pelajar Pancasila memiliki 6 dimensi dan beberapa elemen di dalamnya.


Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia

Pelajar Pancasila mengimani dan mengamalkan nilai dan ajaran agama/kepercayaannya. Hal ini diwujudkan dalam akhlak yang baik pada diri sendiri, sesama manusia, alam, dan negara Indonesia (nasionalisme).


Berkebinekaan global

Pelajar Pancasila mengenal dan mencintai budaya dan negaranya (nasionalisme), menghargai budaya lain, serta mampu berkomunikasi dan berinteraksi antar budaya. Mereka juga melakukan refleksi terhadap pengalaman kebinekaannya, sehingga dapat menyelaraskan perbedaan budaya untuk mewujudkan masyarakat inklusif, adil, dan berkelanjutan.


Mandiri

Pelajar Pancasila memiliki pemahaman terhadap diri dan situasi yang dihadapi, serta regulasi diri untuk mencapai tujuan dan meningkatkan kualitas hidupnya.


Bergotong royong

Pelajar Pancasila melakukan kolaborasi yang dibangun atas dasar kemanusiaan dan kepedulian kepada bangsa dan negara, sehingga dapat berbagi kepada sesama.


Bernalar kritis

Pelajar Pancasila yang bernalar kritis menganalisa dan mengevaluasi semua informasi maupun gagasan yang diperoleh dengan baik. Mereka juga mampu mengevaluasi dan merefleksi penalaran dan pemikirannya sendiri.


Kreatif

Pelajar Pancasila yang kreatif adalah pelajar yang bisa menghasilkan gagasan, karya, dan tindakan yang orisinal. Mereka juga memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan.


18 Nilai Pendidikan Karakter Bangsa

18 Nilai Pendidikan Karakter Bangsa

Pelita Pendidikan - Education/Tanoto Foundation

18 Nilai Pendidikan Karakter Bangsa – Globalisasi memang sudah tidak dapat ditolak kehadirannya. Globalisasi yang telah merambah kepada semua aspek kehidupan, baik ekonomi, politik, maupun budaya. Hal ini menandakan bahwa orang yang hidup di era ini mau tidak mau harus mampu berkompetisi dalam segala bidang apabila tidak mau tertinggal jauh.

Tentu saja, semacam ini merupakan bagian dari tugas dunia pendidikan untuk menyiapkan bagaimana menciptakan SDM yang memiliki kemampuan atau berkompetensi dengan karakter yang unggul dan bermartabat. Jika tujuan pendidikan adalah memiliki arti “suatu daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani agar selaras dengan alam dan mayarakat”, sebagaimana diutarakan oleh Ki Hadjar Dewantara, berarti pada era ini bagaimana dunia pendidikan mampu menyiapkan SDM yang dapat mengikuti “arus globalisasi” dalam arti yang positif.

Demikian pula, karena globalisasi mengandung pula hal-hal yang negatif, maka lembaga pendidikan di samping juga masyarakat dan keluarga harus mampu membentengi generasi penerus terutama dari pengaruh budaya yang tidak sesuai dengan norma (agama) sebagai tolak ukur kepribadian atau budi pekerti.

Oleh sebab, itu nilai-nilai karakter bangsa harus dikembangkan secara komprehensif dalam setiap aspek kehidupan manusia. Setidaknya, ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas. Mulai tahun ajaran 2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya.
18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:

1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.

3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.

7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.

15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber: Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, 2010

***

Apakah inisiatif pendidikan karakter di sekolah ini akan berhasil atau hanya sekedar menjadi dokumen formalitas belaka, mari kita lihat. Salah satu indikator sederhana yang bisa kita lihat bersama adalah tentang karakter siswa-siswi sekolah saat berada di lingkungan masyarakat.

Kerja Keras dan Kerja Cerdas

Kerja Keras dan Kerja Cerdas



Secara sederhana kita dapat mengartikan kerja keras adalah kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai dan selalu mengutamakan atau memperhatikan kepuasan hasil pada setiap kegiatan yang dilakukan. Kerja keras dapat diartikan bekerja mempunyai sifat yang bersungguh-sungguh untuk mencapai sasaran yang ingin dicapai. Mereka dapat memanfaatkan waktu optimal sehingga kadang-kadang tidak mengenal waktu, jarak, dan kesulitan yang dihadapainya. Mereka sangat bersemangat dan berusaha keras untuk meraih hasil yang baik dan maksimal.

Secara umum, setiap orang pasti bisa mengartikan apa itu kerja keras. Namun, dalam kehidupan sehari-hari belum tentu setiap orang mampu melaksanakan dan memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. Kerja keras dan kerja dalam waktu yang lama saja bukan menjadi patokan untuk mengukur tingkat kesuksesan seseorang. Sehingga, dalam hal ini setiap orang harus mampu bekerja cerdas pula.

Namun, jangan lupa bahwa semangat untuk bekerja keras merupakan salah satu kunci untuk mencapai kesuksesan. Berikut empat cara memotivasi diri sendiri untuk bekerja keras seperti dikutip dari Business Insider (2017):
1. Fokus pada Tujuan Berkarir
Salah satu cara termudah mendorong diri sendiri adalah dengan merasa yakin pekerjaan tidak akan terasa berat saat Anda bekerja keras. Fokus pada tujuan Anda akan membuat pekerjaan apapun terasa jauh lebih mudah.
Buatlah kerja keras sebagai sesuatu yang mudah dengan menganggapnya sebagai tantangan untuk ditaklukan.

2. Berkumpul dengan Rekan Kerja yang Bekerja Keras
Hindari rekan kerja yang senang mengeluh dan malas. Pastikan Anda berkumpul dengan rekan kerja yang senang bekerja keras serta membantu Anda.
Itu lantaran pikiran dan perilaku Anda juga sedikit banyak dipengaruhi rekan kerja lain.

3. Permudah Pekerjaan yang Ada
Buatlah pekerjaan menjadi mudah dengan membaginya ke dalam tugas-tugas kecil. Yang terpenting adalah mengerjakannya secara keseluruhan dan langkah tadi akan membantu Anda membuatnya menjadi lebih mudah.

4. Bersikap Positif
Kegagalan dapat menimpa siapa saja yang tidak yakin dirinya dapat meraih kesuksesan. Pastikan Anda selalu berpikir dan bersikap positif saat bekerja.
Jangan pernah melihat pegawai lain sukses dengan rendah diri. Tapi jadikan kesuksesan orang lain sebagai cambuk untuk diri sendiri agar gemilang dalam berkarir.

Mau tau lebih dalam apa itu kerja keras dan kerja cerdas, yuk lihat video berikut.



Berpilaku Jujur dan Berbagai Manfaatnya!

Berpilaku Jujur dan Berbagai Manfaatnya!



“Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan menunjukkan kepada jalan menuju syurga”. (HR Bukhari). Kejujuran adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap individu manusia. Kejujuran adalah modal dasar menuju kebaikan, baik di dunia maupun akhirat. Kejujuran juga adalah syarat mutlak yang dimiliki oleh seorang Nabi maupun Rasul Allah. Allah SWT mengutus Baginda Rasul Muhammad SAW memiliki sosok tauladan yang selalu dikenang sepanjang masa, yaitu tauladan akan sifat kejujuran beliau, sehingga beliau diberi gelar “Al Amin” yaitu orang yang dapat dipercaya. Islam juga menjunjung tinggi kejujuran. Dalam Islam, jujur menjadi syarat mutlak seorang Nabi dan Rasul. Orang yang berlaku jujur dalam Al Qur’an akan disandingkan dengan para Nabi, orang-orang yang mati syahid dan orang yang sholeh.

Secara definitif, kata jujur sudah tidak asing lagi bagi kita, karena hampir setiap hari mendengar kata jujur. Namun belum tentu   tahu makna jujur dan tentunya sudah banyak yang tahu atau mengerti tentang makna jujur, ada juga di kalangan masyarakat kalau ditanya tentang jujur, ia tahu tetapi tidak bisa mengartikan jujur dengan merangkai kata-kata untuk menjadi kalimat yang mendefinisikan tentang jujur.

Kejujuran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata” jujur” yang mendapat imbuhan ke-an, yang artinya “lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus atau ikhlas” kejujuran sendiri dapat lihat dari apa yang di sampaikan dan di perbuat sesuai dengan niat atau hati nurani.

Kejujuran adalah kesadaran apa yang benar dan tepat dalam peran seseorang, perilaku seseorang, dan satu hubungan. Dengan kejujuran, tidak ada kemunafikan atau kepalsuan yang menciptakan kebingungan dan ketidakpercayaan dalam pikiran dan kehidupan orang lain.

Kejujuran membuat untuk kehidupan integritas karena diri dalam dan luar adalah bayangan cermin. Kejujuran adalah berbicara bahwa yang diduga dan untuk itu yang diucapkan. Tidak ada kontradiksi atau perbedaan dalam pikiran, kata, atau tindakan. Integrasi tersebut memberikan kejelasan dan contoh kepada orang lain. Untuk memiliki satu bentuk internal maupun eksternal bentuk lain menciptakan hambatan dan dapat menyebabkan kerusakan, karena salah satu tidak akan mampu mendekati orang lain, atau orang lain akan ingin menjadi dekat. Beberapa orang berpikir, "Saya jujur, tapi tidak ada yang memahami saya "Itu tidak jujur. Kejujuran adalah sebagai berbeda sebagai berlian tanpa cacat yang tidak dapat tetap tersembunyi. Layak yang terlihat dalam tindakan seseorang.

Selain itu, dengan prilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari kita akan memperoleh berbagai keuntungan, sebagaimana dikutip dalam keluarga.com adalah sebagai berikut:

1. Kejujuran mendatangkan kebahagiaan
Sangat sulit memang untuk selalu bersikap jujur. Namun, ini adalah jalan terbaik untuk bisa merasakan kebahagiaan. Akan tetapi, hendaknya kejujuran juga disertai dengan pola pikir yang dewasa agar kejujuran yang kita lakukan tidak menyinggung perasaan orang lain karena apa yang kita lakukan atau ucapkan.

2. Kejujuran mendatangkan simpati
Ada kisah seorang bapak petugas kebersihan memperoleh hadiah sebuah sepeda motor karena dia mengembalikan bungkusan kresek yang ternyata di dalamnya berisi uang ratusan juta rupiah. Mungkin ada sebagian dari Anda berpikir mengapa dikembalikan, hadiah sepedah motor tidak sebanding dengan nominal uang yang ada di dalamnya. Namun, bagi si bapak uang bukanlah segala-galanya yang dia tahu bahwa uang tersebut bukanlah miliknya dan pasti orang yang kehilangan sedang mengalami depresi berat. Dari kebaikan dan teladan si bapak akhirnya banyak orang merasa simpati kepadanya, hingga terdengar sampai ke jajaran direksi dan akhirnya mengangkat bapak tersebut menjadi karyawan tetap pada posisi yang lebih baik.

3. Kejujuran mendatangkan ketenangan
Dengan selalu bersikap jujur tidak hanya kebahagiaan yang bisa kita rasakan, tapi juga ketenangan. Hal ini karena kita tidak perlu merasa takut karena merasa dikejar-kejar sesuatu akibat kebohongan yang kita lakukan. Oleh sebab itu, berusahalah meninggalkanlah apa yang meragukan menuju ke perkara yang tidak meragukan, sesungguhnya jujur adalah ketenangan sedangkan dusta adalah keraguan.

4. Kejujuran mendatangkan pahala
Tuhan tidak pernah tinggal diam dan pasti akan membalas kita dengan pahala yang yang berlimpah jika kita bisa selalu bersikap jujur dalam kehidupan ini.

5. Kejujuran mendatangkan rasa percaya diri
Dengan bersikap jujur kita akan selalu merasa optimis dalam melakukan segala sesuatu meskipun hasil yang diperoleh mungkin tidak memuaskan. Namun, di balik itu semua kita tidak perlu merasa takut akibat dibayang-bayangi oleh perasaan bersalah dari perbuatan yang kita lakukan.

6. Kejujuran mendatangkan kedamaian
Dalam beberapa kasus ketidakjujuran sering menjadi sumber utama perselisihan dengan orang lain. Sebagai contoh, fakta terbaru terungkapnya dugaan kasus kecurangan pada proses pemilihan kepala daerah beberapa waktu yang lalu di Kalimantan Tengah diwarnai dengan perkelahian di antara masing-masing kubu pendukung calon kepala daerah. Hal ini patut disayangkan sekali, padahal bila masing-masing pihak mampu besikap jujur dan tidak melakukan kecurangan dengan cara menyuap ataupun memanipulasi data, maka perkelahian pasti bisa dihindari sehingga memungkinkan bagi terciptanya kedamaian.

7. Kejujuran menciptakan keluarga yang nyaman
Dampak bersikap jujur di dalam rumah tangga membuat seluruh anggota keluarga bisa merasakan kenyamanan, hal ini karena setiap orang tidak perlu merasa harus menyembunyikan sesuatu jika sedang menghadapi permasalahan.

8. Menghindarkan seseorang dari tuduhan-tuduhan yang merugikan
Kita hidup di dunia di mana berbagai macam karakter orang tinggal di dalamnya. Di manapun kita berada hedaknya segala yang kita lakukan dilandasi dengan kejujuran supaya kita terhindar dari tuduhan-tuduhan palsu yang dapat merugikan kita.

Nah, berikut beberapa manfaat jika kita berprilaku jujur dalam kehidupan sehari hari. Bersikap jujur dalam setiap kesempatan adalah sebuah keharusan. Tanpanya kehidupan yang bahagia, aman dan tentram tidak akan pernah bisa terwujud. Sayangnya, ada banyak orang justru tidak mampu menerapkannya dan menjadikan kejujuran sebagai selogan semata.

Mau lebih memahami apa itu kejujuran, yuk lihat video berikut.

Menenun Semangat Kebangsaan!

Menenun Semangat Kebangsaan!



Pengertian semangat  kebangsaan adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya kesadaran untuk menyerahkan kesetiaan tertinggi dari setiap pribadi kepada Negara/bangsa. Pengertian ini sejalan dengan makna semangat kebangsaan  yang identik dengan konsep nasionalisme dan patriotisme. Nasionalisme adalah suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi wajib diserahkan kepada negara kebangsaan atau nation state. Sedangkan Patriotisme berarti ‘semangat cinta tanah air atau sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk mempertahankan bangsanya’.

Nasionalisme dan patriotisme dibutuhkan bangsa Indonesia untuk menjaga kelangsungan hidup dan kejayaan bangsa serta negara. Kejayaan sebagai bangsa dapat dicontohkan oleh seorang atlet yang berjuang dengan segenap jiwa dan raga untuk membela tanah airnya.

Salah satu semangat yang dimiliki para pejuang kemerdekaan dan paea pendiri negara adalah semangat mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi ataupun golongan.


Menenun Semangat Kebangsaan
Sebagaimana dilansir dalam Kompas.com (30/01) Ada sebuah kegelisahan yang selalu menggeliat dalam benak kita manakala mencermati fenomena radikalisme yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Mengapa radikalisme kerap kali berujung kekerasan? Apakah kekerasan sudah menjadi sebuah habitus utama yang memang ditakdirkan oleh pelaku radikalisme untuk mengekspresikan segala macam pikiran dan perilakunya? Dan, ketika pelaku radikalisme banyak didominasi oleh kelompok keagamaan tertentu, apakah naluri keberagamaan mereka memang dibaluti oleh ajaran kekerasan yang diyakini sebagai khitahnya?

Beberapa pertanyaan di atas merupakan cermin analitik yang banyak dikupas oleh berbagai kalangan yang secara khusus mengkaji dan meneliti fenomena radikalisme yang banyak disertai kekerasan. Tulisan Mark Juergensmeyer, ”Teror Atas Nama Tuhan: Kebangkitan Global Kekerasan Agama” jadi salah satu kajian empiris perihal radikalisme yang begitu masif dimanfaatkan sekelompok orang sebagai ekspresi tindak kekerasan.

Apalagi ketika naluri keberagamaan yang radikalistik beririsan dengan semangat fundamentalisme untuk menegakkan paham keagamaan secara subyektif yang didominasi oleh ciri berpikir yang absolut, non-dialogis, apologetik-defensif, dan pengklaim kebenaran. Maka, yang bermunculan adalah sikap kefanatikan yang mewujud dalam bentuk perasaan sentimen dan penyesatan terhadap serangkaian perbedaan yang ada.

Atas dasar potret radikalisme yang begitu durjana, kita pun bertanya-tanya, bagaimana cara efektif untuk menangkal dan mengatasi radikalisme tersebut? Apalagi, berdasarkan hasil survei INFID dan jaringan Gusdurian di sejumlah kota di Indonesia, 88,2 persen penduduk Indonesia menolak tindakan radikalisme yang berbasis agama. Lalu, adakah jalan lain yang bisa dijadikan panduan etis dan landasan etos untuk menciptakan kedamaian dalam kehidupan kita, yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah rahmatan lil alamin?

Meneguhkan Pancasila

Tulisan Donny Gahral Adian berjudul ”Radikalisme dan Pancasila” (Kompas, 14/1) menjadi catatan menarik untuk direfleksikan bersama: bahwa untuk menangkal radikalisme bisa melalui Pancasila yang didasari oleh semangat kolektivitas, yaitu lima sila yang terkandung dalam Pancasila sejatinya mencerminkan ide-ide kolektivitas. Ketika kita berketuhanan, maka kita harus memelihara solidaritas antarmanusia pula.

Pandangan Donny Gahral Adian ini memberikan wawasan lebih kepada kita bahwa dalam meneguhkan Pancasila, Pancasila harus diawali dengan cara kita membangun sebuah pola pikir yang menyeluruh terhadap lima sila yang termuat di dalamnya.

Semisal, ketika kita memahami dan menghayati sila pertama, kita tidak bisa menafikan dan menegasi keberadaan manusia lainnya—yang basis ontologisnya termaktub dalam sila kedua— yang memiliki sistem kepercayaan yang berbeda. Sebab, jika itu yang dilakukan, sila ketiga yang menyerukan spirit persatuan tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik.

Demikian halnya sila keempat yang menyerukan spirit kehikmatan melalui mekanisme permusyawaratan dan atau perwakilan, tidak akan bisa berjalan dengan baik jika di antara kita masih memahami sila pertama secara sektoral dan parsial. Apalagi ketika kita akan membincangkan ihwal keadilan sosial, yang bisa meliputi semua rakyat Indonesia, maka sangat mustahil untuk membangun iklim kesetaraannya.

Dengan demikian, semangat kolektivitas yang menghubungkan antara satu sila dan sila yang lain di dalam meneguhkan Pancasila menjadi modalitas keterjalinan antara satu sikap dan sikap yang lain untuk mewujudkan pelibatan empatik dalam perilaku kita.

Kita tidak lagi mempersoalkan perbedaan keyakinan, perbedaan ras, perbedaan ideologi dalam menenun semangat kebangsaan, dan menyikapi persoalan keindonesiaan. Akan tetapi, yang patut disadari, kita adalah sesama manusia yang senasib sepenanggungan, yang lazimnya harus peduli bersama terhadap tegaknya kedamaian negara ini. Oleh karena itu, dalam meneguhkan Pancasila, perlu memerhatikan ikatan bersama dengan perasaan kolektif bahwa kehidupan yang damai akan tercipta jika antara satu dan yang lain sama-sama berempati secara lintas batas.

Nilai-nilai ”rahmatan lil alamin”

Dengan menempatkan ide-ide kolektivitas dalam meneguhkan Pancasila dan disertai dengan sikap pelibatan secara empatik antara satu dan yang lain, maka seiring dengan waktu Pancasila akan menjadi pandangan hidup berbangsa dan bernegara yang dapat memberikan suatu pedoman mengenai nilai kehidupan yang mengedepankan kedamaian bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Secara sosiologis, konsep dasar rahmatan lil alamin menegaskan berbagai nilai keluhuran perihal bagaimana menyemaikan kesadaran etik yang mengedepankan prinsip-prinsip toleransi (tasamuh), moderasi (tawasuth), keseimbangan (tawazun), dan keadilan (ta’adul) dalam kehidupan. Dalam kaitan ini, beberapa prinsip ini menjadi modalitas yang dapat mempertemukan semua elemen bangsa yang terdiri atas berbagai latar belakang. Sebab, sejatinya, merujuk pada pemikiran Muhammad Fethullah Gulen dalam buku ”Islam Rahmatan Lil ’Alamien: Menjawab Pertanyaan dan Kebutuhan Manusia” bahwa kerahmatan adalah kebutuhan dasar yang dirindukan oleh setiap orang.

Dengan kerahmatan, setiap orang bisa mengekspresikan dirinya di berbagai arena tempat ia berada. Seorang pelaku usaha merasa nyaman menjalin perdagangannya, seorang pejabat merasa tenteram menjalankan tugas kekuasaannya, seorang pendidik merasa bebas mentransformasikan pengetahuannya, dan siapa pun yang memiliki profesi yang berbeda-beda akan merasakan keteduhan dalam menjalankan tugasnya.

Dalam kaitan ini, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang diyakini sebagai ideologi bangsa, baik dalam lingkup pengetahuan (kognitif) maupun ajaran nilai (afektif dan psiko- motorik), dapat dijadikan sebagai ruang alternatif untuk menyemaikan nilai-nilai rahmatan lil alamin. Di saat wajah agama diekspresikan secara radikalistik oleh sekelompok orang, dan yang terjadi setiap pemeluk agama sibuk mempertarungkan ”atas nama Tuhan” untuk menebar pengaruh sosialnya, maka Pancasila perlu dihadirkan sebagai jalan kerahmatan yang dapat mengarahkan semua elemen masyarakat kepada sikap saling mengasihi dan menghargai.

Melalui landasan prinsipil, seperti toleransi, moderasi, keseimbangan, dan keadilan, nilai-nilai kerahmatan bisa dijadikan landasan filosofi Pancasila dalam membangun negara yang damai, aman, dan sentosa. Dan, ketika situasi kehidupan sejuk ini yang ditonjolkan, maka Indonesia bersama Pancasila-nya akan menjadi kiblat perdamaian yang akan dirujuk oleh dunia.


Fathorrahman Ghufron,
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga; Wakil Katim Syuriyah PWNU Yogyakarta

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Januari 2017, di halaman 7 dengan judul "Menenun Semangat Kebangsaan".

Untuk lebih memahami apa itu semangat kebangsaan mari tonton video berikut.




Karakter Kreatif Itu Penting Lho…

Karakter Kreatif Itu Penting Lho…



Apa itu kreativitas? Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baru bagi dunia berdasarkan sebuah inovasi. Misalnya, ketika Newton merasakan ada buah Apel di kepalanya, ia merumuskan hukum gravitasi yang merupakan dasar dari banyak perhitungan hari ini. Ketika Thomas Alva Edison menganalisis kebutuhan cahaya untuk melawan kegelapan di malam hari, analisis ini membimbingnya dalam penemuan bola lampu listrik.

Kreativitas terletak pada diri setiap orang, tidak peduli apakah dia adalah seorang ilmuwan terkenal atau karyawan kelas rendah. Kreativitas terletak pada kedalaman jiwa anda dalam bentuk ide-ide inovatif yang baik. Namun kreativitas itu akan selamanya terkubur dalam diri anda apabila anda tidak merealisasikannya dalam sebuah inovasi konkrit yang bisa bermanfaat untuk anda dan dimanfaatkan oleh banyak orang. Sehingga yang anda perlukan hanyalah menciptakan sebuah inovasi dalam hidup anda. Biarkan kreativitas itu keluar dari dalam diri anda.

Abaikan saja pandangan masyarakat yang berusaha membatasi kreativitas anda, selama itu positif, anda harus memperjuangkannya. Anda dapat belajar untuk menjadi lebih kreatif dengan mengamati dan mengikuti jejak orang-orang yang kreatif di masa lalu dengan membaca dan mempelajari biografi mereka, seperti Newton, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu maka dewasa ini dalam era yang penuh dengan tantangan maka karakter kreatif sangatlah penting agar seseorang mampu bersaing. Jangan takut untuk mulai mengasah karakter kreatifmu. Hal ini karena setiap orang sebenarnya bisa mengembangkan dirinya sendiri untuk memunculkan kreativitas secara maksimal. Jadi jangan bermalas-malasan mengasah sisi kreatif dan miliki karakter hebat sebagaimana yang dilansi dari Merdeka (16/4) berikut ini.

1. Orientasi asosiatif
Maksudnya adalah karakter yang penuh imajinatif, menyenangkan, kaya ide, mampu berkomitmen, dan bisa membedakan fakta dan fiksi.

2. Keorisinilan
Seperti sikap mau melawan aturan dan arus, siap memberontak karena kebutuhan dan kesadaran bahwa orang lain tidak ada yang mau melakukan sesuatu.

3. Motivasi
Orang-orang kreatif perlu memegang tujuan, inovatif, kuat saat menghadapi masalah sulit, dan berani tampil.

4. Ambisi
Karakter yang penuh ambisi diartikan sebagai kemampuan mempengaruhi orang lain, menarik perhatian, dan keinginan untuk diakui.

5. Fleksibilitas
Memiliki kemampuan untuk melihat aspek yang berbeda dari masalah dan memunculkan solusi yang optimal.

6. Kestabilan emosi yang rendah
Uniknya, orang-orang kreatif juga memiliki kecenderungan untuk merasakan emosi negatif, moody, dan terkadang sering kurang percaya diri.

7. Keramahan rendah
Orang-orang kreatif juga cenderung cuek, tidak peduli, keras kepala, dan kerap mengkritik kesalahan dan kekurangan ide orang lain.

Itulah daftar karakter yang dimiliki oleh orang-orang kreatif berdasarkan Profesor Oyvind L Martinsen dari BI Norwegian Business School. Sudah memiliki semuanya?

Selain itu, perilaku yang mempunyai daya saing dan penuh kreativitas pun sangat dibutuhkan dalam menghadapi era ini. Kreativitas merupakan sebuah harta berharga yang harus dimiliki setiap pemuda Indonesia pada zaman ini agar berhenti menjadi bangsa yang konsumtif menjadi bangsa yang produktif. Ciptakan sebuah terobosan terbaru dari berbagai aspek dan keahlian Anda. Bisa dari dunia seni, teknologi hingga metode pendidikan. Lakukanlah semuanya demi kebaikan bangsa ini. Maka kreativitas milik Anda tidak akan terbuang sia-sia dan bangsa ini dapat berdiri tegak diatas negara-negara lainnya.

Berikut beberapa contoh kegiatan kreatif dalam kehidupan sehari-hari.



Karakter Mandiri dan Contohnya dalam Kehidupan

Karakter Mandiri dan Contohnya dalam Kehidupan

Karakter Mandiri


Karakter Mandiri dan Contohnya dalam Kehidupan – Dalam 18 Nilai Pendidikan Karakter Bangsa dijelaskan salah satunya adalah Karakter Mandiri. Karakter mandiri adalah Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. Selain itu, beberapa pengertian dari berbagai referensi menyebutkan bahwa Mandiri adalah sikap atau perilaku dalam bertindak yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalah atau tugas (Supinah dan Parmi, 2011). Menurut Knowless (Rusman, 2011) peserta didik yang mandiri harus mempunyai kreativitas dan inisiatif sendiri, serta mampu bekerja sendiri dengan merujuk pada bimbingan yang diperolehnya.

Sedangkan, menurut Prima Deli – dalam bdkpadang.kemenag.go.id dijelaskan bahwa Kemandirian merupakan keadaan  seseorang yang dapat berdiri sendiri yang tumbuh dan berkembang karena disiplin dan komitmen sehingga dapat menentukan diri sendiri yang dinyatakan dalam tindakan dan perilaku yang dapat dinilai. Kemandirian peserta didik dalam belajar salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk mencapai hasil belajar yang baik.

Kemandirian belajar merupakan kondisi aktivitas belajar yang mandiri tidak tergantung orang lain, memiliki kemampuan,  serta bertanggung jawab sendiri dalam menyelesaikan masalah belajarnya. Kemandirian belajar akan tewujud apabila peserta didik aktif mengontrol sendiri segala sesuatu yang dikerjakan dalam proses pembelajaran. Pendidik mengarahkan peserta didik agar berperan serta dalam memilih dan menentukan apa yang akan dipelajarinya dan cara serta jalan apa yang akan ditempuhnya dalam belajar. Dengan demikian, tugas pendidik yang cenderung mengarahkan secara berangsur-angsur dapat  dikurangi.  Namun dibalik itu,  tugas pendidik yang penting sesungguhnya adaah merencanakan dan mempersiapkan situasi belajar mandiri sehingga apa yang dicapai peserta didik sebenarnya sesuai dengan yang direncanakan dan diinginkan oleh pendidik dalam rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuatnya.

Urgensi Pendidikan Karakter Mandiri
Pemuda Indonesia memerlukan karakter mandiri. Rakyat indonesia yang mencita-citakan derajat yang sama dengan bangsa lain di dunia ini, lebih butuh pemimpin yang mempunyai karakter. Sebab itu mendidika karakter mandiri perlu diupayakan secara optimal.

Seseorang yang berkarakter mandiri, setelah tamat sekolah ia akan menggunakan ilmunya untuk menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan uang. Sedangkan seorang yang bermental pegawai atau kuli, setelah menamatkan sekolahya, akan menggunakan ilmunya untuk mencari kerja, dan memboros-boroskan uang, serta bergantung kepada pihak-pihak lain. Dengan demikiansudah saatnya istilah siap pakai harus dikubur dalam-dalam, harus segera diganti dengan istilah siap mandiri. Sebab dalam kata siap pakai terkandung konotasi negatif, sedangkan pada kata siap mandiri terkandung makna positif. Siap pakai bersifat pasif, statis, dan bermental pengemis, sedangkan siap mandiri bersifat aktif, dinamis, kreatif dan produktif dan progresif.

Keberhasilan merupakan syarat untuk mencapai kemandirian. Tiada keberhasilan tanpa kerja keras, tiada kerja keras tanpa kemandirian, tiada kemandirian tanpa pendidikan dan pembentukan akhlak atau karakter mandiri.

Contoh Karakter Mandiri dalam Kehidupan
Betapa pentingnya karakter mandiri harus membuat kita semua harus terus belajar dan memulainya melalui hal-hal kecil dalam kehidupan. Berikut beberapa contoh membangun karakter mandiri dalam kehidupan:

  • Mencoba mengerjakan segalanya dengan diri sendiri tanpa bantuan apalagi di suruh  orang lain, seperti ketika mengutip sampah. Cobalah ambil sampah dengan tangan sendiri tak perlu orang lain. atau dalam membersihka ruangan, cobalah tergerak dengan hati sendiri.
  • Mencoba bersikap mandiri ketika kamu bisa menentukan jalan hidup sendiri dan bisa menentukan cita cita mulai sejak dini, tidak terlalu tergantung padang orang tua dan orang lain dan percaya pada apa yang kamu perbuat.
  • Bersikap rajin dan tidak tergantung pada orang lain. Selain itu, mencoba untuk selalu berani dalam hal apapun.
Ingat, apa yang pernah diungkapkan oleh Kang Maman - "Seorang ayah ingin anaknya untuk mandiri karena bila kami sudah tiada iya ingin anaknya dapat menghadapi semua masalahnya sendiri, bukan karena iya tak mau tapi karena iya menginginkan yang terbaik untuk yang terbaik dalam hidupmu."


Karakter Toleransi: Pengertian dan Contohnya!

Karakter Toleransi: Pengertian dan Contohnya!

Toleransi


Karakter Toleransi: Pengertian dan Contohnya!Karakter toleransi diartikan sebagai sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. Toleransi diartikan sebagai suatu kualitas sikap membiarkan adanya pendapat, keyakinan, adat-istiadat, dan perilaku orang lain yang berbeda dengan dirinya (Suyati Sidharta, 2009:14).[1]

Diana (2011: 153) mengemukakan bahwa toleransi merupakan salah satu pilar karakter yang tercakup dalam pendidikan karakter anak usia dini. Pendidikan karakter itu sendiri adalah pendidikan yang mencakup penanaman pengetahuan, kecintaan dan penanaman perilaku kebaikan yang menjadi sebuah pola/kebiasaan. Pendidikan karakter tidak lepas dari nilai-nilai yang dipandang baik.[2]

Secara etimologi toleransi berasal dari kata tolerance (dalam bahasa Inggris) yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Menurut W.J.S Purwadarminta menyatakan Toleransi adalah sikap atau sifat menenggang berupa menghargai serta membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri. Sedangkan menurut Dewan Ensiklopedi Indonesia toleransi dalam aspek sosial, politik, merupakan suatu sikap membiarkan orang untuk mempunyai suatu keyakinan yang berbeda. Selain itu menerima pernyataan ini karena sebagai pengakuan dan menghormati hak asasi manusia.

Beberapa contoh prilaku yang menunjukan karakter Toleransi adalah sebagai berikut:
  1. Mengakui hak yang dimiliki oleh orang lain, berdasarkan pilihannya.
  2. Menerima keberagaman sebagai sebuah anugerah dan tidak menimbulkan konflik atau pertentangan.
  3. Saling memberi, saling menolong, saling menghormati, hingga saling menghargai antar sesama manusia.
  4. Berprilaku adil, jujur, dan sabar sesuai dengan nilai-nilai agama, Pancasila, dan norma dalam masyarakat.

Secara umum, ajaran leluhur mengenai toleransi sebenarnya sudah terpampang pada lambang Negara Republik Indonesia yaitu pada Burung Garuda. Pada pita yang dicengkeram burung garuda, terdapat kalimat berbunyi “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti meskipun berbeda-beda namun tetap satu jua.





[1] Suryati Sidharta dkk. (2009). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Penerbit Logung Pustaka.
[2] Diana. (2011). Pengembangan Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Pada Lingkungan Pendidikan Informal(keluarga). Makalah: Karakter Sebagai Saripati Tumbuh Kembang Anak Usia Dini. Yogyakarta: Penerbit ABE Production




Karakter Demokratis dan Implementasinya!

Karakter Demokratis dan Implementasinya!

Karakter Demokrasi


Karakter Demokratis dan Implementasinya! - Sebagai salah satu Negara demokrasi, Indonesia merupakan Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis dalam kehidupanya. Secara sederhana, ini dibuktikan dengan adanya pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) presiden yang langsung dipilih oleh rakyat sebagai salah satu contohnya.

Pemilu adalah salah satu alat demokrasi yang bersifat langsung, umum, bebas, dan rahasia, jujur dan adil bagi setiap warga negaranya yang sudah memenuhi persyaratan untuk memilih. Setiap warga negara Indonesia yang berada di Indonesia maupun yang sedang berada di luar negeri berhak menyumbangkan hak pilihnya untuk memilih presiden yang menurutnya tepat untuk memimpin negeri ini.

Secara umum Mustari (2014) menjelaskan bahwa demokratis adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama antara hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Tentu saja, nilai-nilai demokratis akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara dalam semangat dan suasan yang egalitiarian. Beberapa sikap seseorang yang demokratis diantaranya adalah:

  • Adanya rasa saling menghormati dan tanggung jawab
  • Bersikap kritis
  • Bersifat terbuka
  • Membudayakan diskusi dan dialog
  • Rasional
  • Adil
  • Jujur

Beberapa karakteristik sesorang dengan karakter yang demokratis diatas, merupakan sikap dan sifat yang seharusnya melekat pada seorang warga Negara yang baik.

Selain itu, tentu saja karakter demokratis ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dikarenakan dalam kehidupan yang demokratis akan muncul adanya pengakuan dan penghormatan akan perbedaan yang muncul dari setiap orang akan segala sesuatu yang dirasakan, dipikirkan, dan yang mereka pahami. Semakin beragam tentu saja akan semakin baik, dan disanalah peran dari karakter demokratis dalam kehidupan.

Beberapa implementasi karakter demokratis yang dapat dilakukan kita sebagai warga Negara yang baik asebagai berikut:

  • Menerima perbedaan
  • Menghormati pendapat orang lain
  • Mengedepankan musyawarah mufakat
  • Berpikir terbuka
  • Mampu bekerjasama
  • Menserasikan kepentingan umum dan pribadi.
  • dll

Tumbuhnya karakter demokratis pada setiap warga negara diperlukan untuk mendukung tercapainya pembangunan bangsa dan karakter Indonesia yang lebih baik. Karakter demokratis yang seyogyanya menjadi kekhasan Indonesia ditandai oleh sifatnya yang religius, moderat, cerdas, dan mandiri. Kita Indonesia, Kita Pancasila!
Karakter Kreatif: Pengertian dan Cirinya

Karakter Kreatif: Pengertian dan Cirinya

Karakter Kreatif


Pengertian Karakter Kreatif

Karakter secara umum didefinisikan sebagai sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia juga dijelaskan sebagai tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Karakter juga dapat dimaknai sebagai nilai dasar positif yang dimiliki seseorang, yang membedakannya dengan orang lain serta diwujudkan dalam perilakunya sehari-hari.

Kreatif berasal dari bahasa inggris create yang berarti menciptakan, creation artinya ciptaan. Kemudian kata tersebut diadopsi kedalam bahasa Indonesia yaitu kreatif yang memiliki kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreatif diartikan sebagai seseorang yang memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan.

Mustari (2014: 73) kreatif berarti menciptakan ide-ide dan kara baru yang bermanfaat. Pemikiran yang kreatif adalah pemikiran yang dapat menemukan hal-hal atau cara-cara baru yang berbeda dari yang biasa dan pemikiran yang mampu mengemukakan ide atau gagasan yang memiliki nilai tambah (manfaat). Untuk menjadi kreatif orang mesti dibiasakan dan dilatih. Dan dengan pemikiran yang kreatif, orang dapat “mahal” harganya, dari pengisian kerja. Konon, semakin hari dan semakin modern kehidupan semakin dibutuhkan tenaga-tenaga kerja kreatif.

Secara umum, didapatkan beberapa pendapat tentang definisi karakter kreatif. Menurut Hidayatullah (2010:84), karakter kreatif merupakan sebuah kualitas pemikiran seseorang yang rasional, mendekati sebuah kebutuhan, tugas, atau ide dari suatu perspektif yang baru, menghasilkan; menyebabkan ada, imajinasi; kemampuan untuk membayangkan sesuatu. Kreativitas adalah suatu aktivitas kemampuan individu yang melahirkan gagasan atau produk baru yang efektif dan bersifat imajinatif.

Cara mengembangkan karakter kreatif melalui pembelajaran, yakni anak selalu diupayakan untuk menampilkan sesuatu secara unik dan menampilkan ide baru, berani mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, ingin terus berubah dan memanfaatkan peluang baru, mampu menyelesaikan masalah secara inovatif, luwes, dan kritis.

Ciri Anak Kreatif
Menurut Arif (2004: 8) anak kreatif memiliki ciri dan sikap yang berbeda dari anak biasa. Ciri dan sikap tersebut adalah kelebihan baginya. Beberapa ciri anak kreatif antara lain adalah sebagai berikut:

1) Lancar Berpikir
Ia bisa memberi banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang Anda berikan. Inilah salah satu kehebatan anak kreatif. Ia mampu memberikan banyak solusi dari sebuah masalah yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan. Dunia ini penuh masalah dan tantangan. Semakin kreatif seseorang, maka ia akan dengan mudah menjawab semua masalah dan tantangan hidupnya dengan kreativitasnya.

2) Fleksibel dalam Berpikir
Ia mampu memberi jawaban bervariasi, dapat melihat sutu masalah dalam berbagai sudut pandang. fleksibilitas ini juga sangat penting dalam kehidupan. Seorang yang fleksibel, akan dengan mudah menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan.

3) Orisinil (Asli) dalam Berpikir
Ia dapat memberi jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban baru biasanya tidak lazim atau kadang tak terpikirkan orang lain.

4) Elaborasi
Ia mampu menggabungkan atau memberi gagasan-gagasan atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya dengan memperinci sampai hal-hal kecil.

Secara lebih merinci Anne S Sishkin dan Aileen S. Johnson dalam Ilhammudin dan Mualifah (2011: 127) menunjukan bahwa anak yang memiliki karakter kreatif adalah mereka yang memiliki ciri-ciri dibawah ini:

1) Fluency, merupakan kemampuan anak untuk menggeneralisasikan sejumlah ide sehingga memungkinkan terciptanya pemecahan masalah yang kreatif.

2) Elaboration, merupakan kemampuan untuk menambah, mengemas, atau menciptakan suatu ide atau produk kreatif

3) Flexibility, merupakan kemampuan untuk memproduksi persepsi secara berbeda dengan memunculkan beberapa ide untuk memecahkan persoalan yang sama.

4) System for dicesion making, merupakan individu memiliki sistem dalam mengambil keputusan

5) Originality, merupakan kemampuan untuk menciptakan ide atau produk yang baru, unik, tidak biasa, segar, atau benar-benar berbeda.

6) Risk-Taking, merupakan keinginan untuk berani mencoba hal-hal baru dan berani mengambil resiko.

7) Complexity, merupakan kemampuan untuk mengkonsep ide atau produk yang sukar maupun rumit.

8) Curiosity, merupakan sifat untuk menunjukan prilaku keingintahuan, bertanya, mencari, melihat ide-ide lebih mendalam, dan keinginan untuk mengetahui lebih banyak mengenai suatu hal.


9) Imagination, merupakan kemampuan untuk bermimpi, menemukan, melihat, berpikir, serta mengkonspe ide atau produk baru menjadi sebuah bakat.

Sumber:
  • Mustari, Mohammad. 2014. Nilai Karakter: Refleksi untuk Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo
  • Hidayatullah, Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yusma Pustaka
  • Arif, Al. 2004. E-book: Membentuk Anak Kreatif. Diunduh dari anakjenius.com pada 20 Januari 2016
  • Ilhamudin dan Mualifah. 2011. Psikologi Anak Sukses cara Orang Tua Memandu Anak Meraih Sukses. Malang: UB Press.


Membangun Disiplin Diri!

Membangun Disiplin Diri!

news.okezone.com


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari aktivitas atau kegiatan, kadang kegiatan itu kita lakukan dengan tepat waktu tapi kadang juga tidak. Kegiatan yang kita laksanakan secara tepat waktu dan dilaksanakan secara kontinyu, maka akan menimbulkan suatu kebiasaan. Kebiasaan dalam melaksanakan kegiatan secara teratur dan tepat waktulah yang biasanya disebut disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin diperlukan di manapun, karena dengan disiplin akan tercipta kehidupan yang teratur dan tertata.

Sebagaimana menurut Leni Mariati dalam Kompasiana (2016) Bagi pelajar kedisiplinan mutlak adanya, karena dengan kedisiplinan mereka akan terbiasa dengan beban yang di emban sebagai pelajar yaitu menjadi pelajar yang cerdas, berakhlaq dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kedisiplinan adalah modal utama untuk meraih keberhasilan, dengan disiplin seseorang akan terbiasa dengan hal-hal yang membuat dirinya bisa berkembang, mengerjakan sesutau tepat pada waktunya dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.

Disiplin merupakan aturan yang di buat oleh dirinnya atau institusi pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal pendidikan tingkat penerapan belajar dan kecerdasan. Membangun pendidikan yang cerdas di mulai dari disiplin, disiplin yang di terapkan oleh seoarang pelajar tanpa di sadari pelajar akan mendapatkan manfaat yang sangat berharga dari kedisiplinan yang di terapkan.

Kedisiplinan sangat penting bagi para pelajar, disiplin buka hanya dilakukan dan di jalan hanya karena suatu aturan dan kebijakan yang harus ditaati sesuai dengan aturan itu melainkan kedisiplinan itu dilakukan karena kesadaran sendiri untuk meningkatkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Contohnya disiplin waktu, seorang pelajar yang menjalankan aktivitas dengan disiplin Ia cenderung akan menghargai waktu dan mengerjakan tugas sesuai waktu yang di tetapkan.

Pendidikan karakter akan terbangun dari kedisiplinan itu sendiri, dari kedisiplinan yang di jalankan akan membentuk pribadi yang kuat, tangguh, kokoh dan dinamis serta bertanggung jawab terhadap kemajuan dirinya dan juga tugas yang di embannya. Pendidikan karakter sangat berkaitan erat dengan kedisiplinan karena salah satu kunci keberhasilan individu. Oleh karena itu membangun pendidikan karakter bagi para pelajar tidaklah semudah membalikan telapak tangan, butuh proses yang sangat ekstra dan waktu yang sangat lama untuk membimbing Para pelajar itu sendiri, semua itu harus di mulai dari lingkungan intansi pendidikan dengan menerapkan sisitem yang bermutu dan lingkungan yang positif.

Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang di sengaja untuk membantu seseorang sehingga Ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang tinggi. Karakter itu sendiri berkaitan dengan konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral felling) dan perilaku moral (moral behavior).
Adanya keselarasan antara kedisiplinan dan pendidikan karakter mampu memberikan sesuatu yang bernilai tinggi terhadap aspek pelajar, agar pelajar lebih memahami arti tentang “Kedisiplinan Dan Pendidikan Karaakter Bagi Pelajar”.

Jadi dapat disimpulkan disini bahwa kedisiplinan bisa di jadikan landasan untuk membangun pendidikan yang lebih berkualitas dan memberikan rasa tanggung jawab yang besar bagi para pelajar, dan juga para pelajar mampu bersaing di kancah internasional. Pendidikan karakter akan membentuk jiwa-jiwa yang kuat dan memiliki kebaikan untuk berbuat yang lebih baik lagi, sehingga kedisiplinan dan pendidikan karakter, menjadi budaya bangsa sebagai landasan tolak ukur dan keberhasilan dan kemajuan bangsa dalam membangun pendidikan.

Sebagai insan manusia kedisiplinan adalah sebuah keharusan untuk mencapai kesuksesan, sebagaimana dilansir dalam http://belajarpsikologi.com ada beberapa alasaan mengapa kita perlu disiplin dalam kehidupan kita. Disiplin diri akan terasa manfaatnya jika kita memiliki suatu impian dan cita-cita yang ingin dicapai. Kita harus mendisiplinkan ( melatih ) diri untuk mengerjakan hal -hal yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, di dunia ini dibuat peraturan -peraturan yang disertai hukuman yang setimpal. Hal ini tidak lain agar setiap manusia mau belajar hidup disiplin dan menaati aturan yang ada sehingga dunia tidak kacau balau dan seseorang tidak dapat berbuat sekehendak hatinya.

Berikut, tips untuk dapat hidup dengan disiplin, dengan cara :

  1. Kalahkan diri sendiri.
  2. Lakukan kegiatan selingan sesekali di luar rutinitas.
  3. Fokuskan fikiran pada tujuan akhir yang ingin dicapai.

Tips untuk meningkatkan disiplin diri, dengan cara :

  1. Tetapkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam waktu dekat.
  2. Buat urutan prioritas hal -hal yang ingin kita lakukan.
  3. Buat jadwal kegiatan secara tertulis.
  4. Lakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang kita buat, tetapi jangan terlalu kaku.
  5. Berusahalah untuk selalu dsiplin dengan jadwal program kegiatan yang sudah kita susun sendiri.

Yuk berdisiplin diri. 
Berikut video yang diunggah Angga Nordana dengan Judul 

Rhenald Kasali - Pentingnya Disiplin Diri.


Karakter Religius dan Contoh dalam Kehidupan

Karakter Religius dan Contoh dalam Kehidupan

Raja Salman puji toleransi Indonesia/Merdeka


Karakter Religius dan Contoh dalam Kehidupan - Bangsa Indonesia saat ini mengalami perubahan prilaku yang menyimpang. Norma dan nilai seolah menjadi sekedar literatur kepustakaan masyarakat yang berbudi luhur. Sikap merasa agung sebagai bangsa yang punya kekayaan nilai, tapi miskin bukti saat bersikap dan berbuat.  Merasa bangga saat dipuji sebagai masyarakat heterogen, namun konflik kian meruyak. Merasa percaya diri dengan budaya beragam, namun tidak menghargai lagi semangat perbedaan.

Melihat permasalahan tersebut, tentu saja dibutuhkan generasi bangsa yang memiliki jiwa dan karakter yang kuat, salah satunya karakter religius (Red – 18 Nilai Pendidikan Karakter Bangsa). Religius merupakan salah satu dari 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang menjadi pola didik anak di semua jenjang pendidikan formal.

Karakter religius secara umum diartikan sebagai Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Dalam pengertian ini jelas bawasannya karakter religius merupakan pokok pangkal terwujudnya kehidupan yang damai.
Selanjutnya, dalam karakter religius nilai agama merupakan nilai dasar yang semestinya sudah dikenalkan kepada anak mulai dari rumah, sehingga pengetahuan di sekolah hanya akan menambah wawasan saja.

Orangtua jangan mengandalkan sekolah untuk mengubah perilaku anak agar sesuai nilai agama. Sebaliknya, orangtua harus menularkan kepada anak nilai-nilai agama yang tercantum dalam kitab suci agar anak mudah mengerti, mempercayai, dan menjunjung tinggi kebenaran-kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta.

Hal kecil seperti mengajak anak mengucapkan rasa syukur ketika dia mendapat satu keberhasilan, baik itu berupa nilai bagus di sekolah atau keberhasilan di bidang lain, akan menjadi satu contoh, sehingga anak tahu dari siapa keberhasilannya berasal dan bagaimana menyikapinya.

Contoh lain adalah kebiasaan menyumbang atau membantu tetangga yang kesusahan, akan tertanam di pikiran anak ketika orangtua mengatakan alasannya melakukan itu.

Jadi, bukan dengan pemaksaan, tapi dari contoh nyata orangtua, sampai akhirnya anak terdorong untuk melakukan hal yang sama di lain hari.

Orangtua yang menjalankan nilai keagamaan pada kehidupan di rumah akan mudah membentuk perilaku anak.

Nilai agama bagi anak adalah landasan dasar  untuk anak dalam beraktivitas di kesehariannya sehingga bisa menjadi filter atau penyaring alami terhadap sikap dan perilaku yang cenderung negatif.

Anak jadi tahu dan mengerti mana yang baik dan boleh dilakukan dan mana yang tidak. Orangtua pun menjadi tak was-was ketika anak beraktivitas di luar rumah.
***
Berikut adalah langkah menanamkan nilai religius kepada anak:
  • Perkenalkan anak dengan Sang Pencipta dan ciptaannya;
  • Ketika usia anak cukup, ajak dan tanamkan betapa menyenangkannya menjalankan ibadah;
  • Berilah pemahanan yang sederhana terhadap sesuatu yang boleh dan tidak dilakukan;
  • Ceritakan kisah-kisah keagamaan, baik berupa cerita sejarah atau kisah inspriratif dari tokoh agama;
  • Ajarkan anak untuk bersikap toleransi kepada pemeluk agama lain sesuai dengan ajaran agama.

***

Dengan menanamkan nilai agama sejak dini, anak akan mudah untuk menyerap dan merefleksikannya pada saat berbicara, bersikap, dan bertingkah laku di segala aktivitas bersama teman-temannya.