Tampilkan postingan dengan label Media Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Contoh Format Rubrik Penilaian Baca Puisi

Contoh Format Rubrik Penilaian Baca Puisi

Contoh Format Rubrik Penilaian Baca Puisi


Rubrik penilaian baca puisi adalah alat yang digunakan untuk menilai bagaimana seorang siswa membaca sebuah puisi. Dalam hal ini, rubrik membantu guru untuk memberikan nilai yang obyektif dan terperinci kepada siswa. Dalam artikel ini, akan dibahas contoh format rubrik penilaian baca puisi yang dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran.

Contoh Format Rubrik Penilaian Baca Puisi



Format rubrik penilaian baca puisi adalah dokumen yang menjelaskan bagaimana nilai akan diberikan kepada siswa. Rubrik ini mencakup kriteria yang harus dipenuhi oleh siswa dalam membaca puisi. Kriteria tersebut meliputi aspek-aspek seperti intonasi, volume suara, kecepatan baca, penggunaan gestur, dan sebagainya. Rubrik ini juga menjelaskan skor maksimal yang dapat dicapai oleh siswa dan bagaimana skor tersebut diterjemahkan ke dalam nilai.

Berikut ini adalah contoh format rubrik penilaian baca puisi yang dapat digunakan oleh guru:

Intonasi:

  • Siswa menunjukkan intonasi yang tepat saat membaca puisi (3 poin)
  • Siswa membaca puisi dengan intonasi yang monoton (2 poin)
  • Siswa tidak menunjukkan intonasi saat membaca puisi (1 poin)

Volume Suara:

  • Siswa membaca puisi dengan volume suara yang tepat (3 poin)
  • Siswa membaca puisi dengan volume suara yang terlalu rendah atau terlalu tinggi (2 poin)
  • Siswa membaca puisi dengan volume suara yang sangat lemah (1 poin)

Kecepatan Baca:

  • Siswa membaca puisi dengan kecepatan yang tepat (3 poin)
  • Siswa membaca puisi dengan kecepatan yang terlalu cepat atau terlalu lambat (2 poin)
  • Siswa membaca puisi dengan kecepatan yang sangat lambat (1 poin)

Penggunaan Gestur:

  • Siswa menggunakan gestur yang tepat saat membaca puisi (3 poin)
  • Siswa menggunakan gestur yang kurang tepat saat membaca puisi (2 poin)
  • Siswa tidak menggunakan gestur saat membaca puisi (1 poin)
Skor maksimal dalam rubrik ini adalah 12 poin. Nilai akan diterjemahkan ke dalam bentuk persentase dengan mengalikan jumlah poin yang didapat oleh siswa dengan skor maksimal, lalu dibagi dengan skor maksimal dan dikalikan dengan 100.

Contoh: Jika siswa memperoleh 9 poin, maka nilainya adalah (9/12) x 100 = 75.

Ini hanya salah satu contoh format rubrik penilaian baca puisi. Guru dapat menyesuaikan kriteria dan skor sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Penting untuk diingat bahwa rubrik bukanlah alat yang menentukan keberhasilan atau kegagalan siswa dalam membaca puisi, tetapi alat yang membantu guru untuk memberikan umpan balik yang berguna bagi siswa dan membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan membacanya.

Dengan memahami dan menggunakan format rubrik penilaian baca puisi, guru dapat memberikan nilai yang obyektif dan terperinci kepada siswa. Ini akan membantu siswa untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka dalam membaca puisi, sehingga mereka dapat memperbaiki keterampilan mereka dan mencapai prestasi yang lebih baik.

Sebagai penutup, rubrik penilaian baca puisi adalah alat yang berguna bagi guru dalam proses pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan format rubrik ini untuk memberikan nilai yang obyektif dan terperinci kepada siswa, sehingga siswa dapat memahami keterampilan membaca mereka dan memperbaikinya. Dengan demikian, rubrik akan membantu siswa untuk mencapai prestasi yang lebih baik dalam membaca puisi.


Kriteria Penilaian Skor Deskripsi
Pengucapan 4 Siswa mengucapkan puisi dengan benar dan jelas, memperhatikan intonasi dan ritme.
Artikulasi 3 Siswa memperhatikan penekanan dan penegasan suara pada kata-kata tertentu.
Emosi 2 Siswa memperlihatkan emosi yang tepat dan sesuai dengan isi puisi.
Teknik 3 Siswa menggunakan teknik baca puisi yang baik, seperti gerakan tangan, pengaturan suara, dll.
Pemahaman 2 Siswa memahami makna dan tema puisi yang dibacakan.
Skor Maksimal 14
Contoh Rubrik Penilaian Keterampilan Pidato

Contoh Rubrik Penilaian Keterampilan Pidato

Contoh Rubrik Penilaian Keterampilan Pidato


Pidato merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, memiliki kemampuan berpidato yang baik sangat diperlukan agar dapat menyampaikan pesan dengan efektif dan menarik perhatian pendengar. Dalam menilai keterampilan pidato, banyak sekali faktor yang perlu diperhatikan, seperti penyampaian, penggunaan bahasa, tata bahasa, dan lain sebagainya.

Contoh Rubrik Penilaian Keterampilan Pidato



Untuk mempermudah penilaian keterampilan pidato, banyak sekali digunakan rubrik penilaian. Rubrik penilaian adalah sebuah instrumen penilaian yang berisi kriteria dan skala nilai yang digunakan untuk menilai suatu prestasi atau kinerja. Dalam hal ini, rubrik penilaian digunakan untuk menilai keterampilan pidato.

Berikut adalah contoh rubrik penilaian keterampilan pidato:

Aspek Penilaian Skor Deskripsi
Kemampuan membawakan pidato 4 Kemampuan membawakan pidato sangat baik, dengan penyampaian yang jelas dan lancar
Kemampuan membawakan pidato 3 Kemampuan membawakan pidato cukup baik, dengan penyampaian yang cukup jelas dan lancar
Kemampuan membawakan pidato 2 Kemampuan membawakan pidato kurang baik, dengan penyampaian yang kurang jelas dan tidak lancar
Kemampuan membawakan pidato 1 Kemampuan membawakan pidato sangat buruk, dengan penyampaian yang sangat tidak jelas dan tidak lancar
Kemampuan menarik perhatian 4 Kemampuan menarik perhatian sangat baik, dengan cara yang sangat menarik dan efektif
Kemampuan menarik perhatian 3 Kemampuan menarik perhatian cukup baik, dengan cara yang cukup menarik dan efektif
Kemampuan menarik perhatian 2 Kemampuan menarik perhatian kurang baik, dengan cara yang kurang menarik dan efektif
Kemampuan menarik perhatian 1 Kemampuan menarik perhatian sangat buruk, dengan cara yang sangat tidak menarik dan tidak efektif
Kemampuan berbicara 4 Kemampuan berbicara sangat baik , dengan intonasi dan volume suara yang baik dan jelas
Kemampuan berbicara 3 Kemampuan berbicara cukup baik, dengan intonasi dan volume suara cukup baik dan jelas
Kemampuan berbicara 2 Kemampuan berbicara kurang baik, dengan intonasi dan volume suara kurang baik dan jelas
Kemampuan berbicara 1 Kemampuan berbicara sangat buruk, dengan intonasi dan volume suara sangat tidak baik dan tidak jelas
Penggunaan materi 4 Penggunaan materi sangat baik, dengan materi yang sangat berkualitas dan tepat sasaran
Penggunaan materi 3 Penggunaan materi cukup baik, dengan materi yang cukup berkualitas dan tepat sasaran
Penggunaan materi 2 Penggunaan materi kurang baik, dengan materi yang kurang berkualitas dan tidak tepat sasaran
Penggunaan materi 1 Penggunaan materi sangat buruk, dengan materi yang sangat tidak berkualitas dan sangat tidak tepat sasaran

Penyampaian

  • 4: Penyampaian pesan dengan sangat jelas dan mudah dipahami
  • 3: Penyampaian pesan cukup jelas dan mudah dipahami
  • 2: Penyampaian pesan kurang jelas dan kurang mudah dipahami
  • 1: Penyampaian pesan sangat kurang jelas dan sulit dipahami

Penggunaan bahasa

  • 4: Penggunaan bahasa sangat baik, dengan ejaan dan tata bahasa yang benar
  • 3: Penggunaan bahasa cukup baik, dengan beberapa kesalahan ejaan dan tata bahasa
  • 2: Penggunaan bahasa kurang baik, dengan banyak kesalahan ejaan dan tata bahasa
  • 1: Penggunaan bahasa sangat buruk, dengan ejaan dan tata bahasa yang sangat salah

Tata bahasa

  • 4: Tata bahasa sangat baik, dengan intonasi yang tepat dan menarik perhatian
  • 3: Tata bahasa cukup baik, dengan intonasi yang kurang tepat dan kurang menarik perhatian
  • 2: Tata bahasa kurang baik, dengan intonasi yang salah dan sulit dipahami
  • 1: Tata bahasa sangat buruk, dengan intonasi yang sangat salah dan sulit dipahami

Kreativitas

  • 4: Pidato sangat kreatif dan menarik perhatian
  • 3: Pidato cukup kreatif dan menarik perhatian
  • 2: Pidato kurang kreatif dan kurang menarik perhatian
  • 1: Pidato sangat kurang kreatif dan sulit menarik perhatian

Kemampuan berbicara

  • 4: Kemampuan berbicara sangat baik, dengan suara yang jelas dan lancar
  • 3: Kemampuan berbicara cukup baik, dengan suara yang cukup jelas dan lancar
  • 2: Kemampuan berbicara kurang baik, dengan suara yang kurang jelas dan tidak lancar
  • 1: Kemampuan berbicara sangat buruk, dengan suara yang sangat tidak jelas dan tidak lancar

Kemampuan mengontrol waktu

  • 4: Kemampuan mengontrol waktu sangat baik, dengan waktu yang sesuai dengan yang ditentukan
  • 3: Kemampuan mengontrol waktu cukup baik, dengan waktu yang hampir sesuai dengan yang ditentukan
  • 2: Kemampuan mengontrol waktu kurang baik, dengan waktu yang kurang sesuai dengan yang ditentukan
  • 1: Kemampuan mengontrol waktu sangat buruk, dengan waktu yang sangat tidak sesuai dengan yang ditentukan

Kemampuan mempersiapkan materi

  • 4: Kemampuan mempersiapkan materi sangat baik, dengan materi yang sangat lengkap dan terstruktur
  • 3: Kemampuan mempersiapkan materi cukup baik, dengan materi yang cukup lengkap dan terstruktur
  • 2: Kemampuan mempersiapkan materi kurang baik, dengan materi yang kurang lengkap dan terstruktur
  • 1: Kemampuan mempersiapkan materi sangat buruk, dengan materi yang sangat tidak lengkap dan tidak terstruktur
Dengan menggunakan rubrik penilaian seperti di atas, penilaian keterampilan pidato dapat dilakukan dengan lebih objektif dan sistematis. Selain itu, rubrik juga dapat membantu peserta untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka dalam berpidato, sehingga dapat meningkatkan keterampilan mereka di masa yang akan datang.

Pada akhirnya, keterampilan berpidato memang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, memiliki kemampuan berpidato yang baik dan terus meningkatkan keterampilan tersebut adalah hal yang sangat penting. Dengan menggunakan rubrik penilaian seperti di atas, keterampilan pidato dapat diukur dan ditingkatkan dengan lebih efektif dan efisien.


Contoh Rubrik Penilaian Poster

Contoh Rubrik Penilaian Poster

Contoh Rubrik Penilaian Poster


Poster adalah salah satu cara untuk menyampaikan informasi dan ide secara visual dan menarik. Dalam sebuah kompetisi poster atau presentasi, penilaian poster sangat penting untuk menentukan pemenang yang merupakan yang terbaik. Rubrik penilaian poster adalah alat yang digunakan untuk membuat penilaian yang obyektif dan terstruktur. Berikut adalah contoh rubrik penilaian poster yang dapat digunakan sebagai panduan.

Contoh Rubrik Penilaian Poster


Desain dan Layout

  • Desain poster yang menarik dan mudah dibaca
  • Penggunaan warna yang harmonis dan efektif
  • Penempatan elemen-elemen seperti judul, gambar, dan teks dengan baik
  • Kualitas resolusi gambar dan desain
  • Penggunaan spasi yang efektif

Isi dan Informasi

  • Konten yang tepat sasaran dan sesuai dengan tema
  • Penyajian informasi yang jelas dan mudah dipahami
  • Penggunaan sumber yang valid dan terpercaya
  • Penggunaan gambar dan infografik yang mendukung dan memperkuat pesan

Originalitas dan Kreativitas

  • Ide dan konsep yang unik dan menarik
  • Penggunaan metode dan teknik presentasi yang inovatif
  • Penggunaan elemen-elemen yang mengejutkan dan membuat poster memikat
  • Kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda dari poster lain

Kesesuaian dengan Tema dan Tujuan

  • Kesesuaian dengan tema dan tujuan kompetisi
  • Penggunaan bahasa dan tone yang sesuai dengan audiens
  • Kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan jelas dan efektif

Penataan dan Kerapian

  • Kebersihan dan kerapian poster
  • Kejelasan dan keterbacaan tulisan dan elemen lain
  • Kejelasan dan kemudahan membaca jarak jauh
Rubrik penilaian poster di atas hanyalah contoh dan dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan kompetisi. Penting untuk diingat bahwa setiap kriteria penilaian harus diberikan bobot yang sama dan dijelaskan dengan jelas agar hasil penilaian dapat diterima dengan adil oleh semua peserta.

Ketika menggunakan rubrik penilaian poster, sangat penting untuk menjadi objektif dan memperhatikan setiap aspek yang diberikan bobot. Ini memastikan bahwa hasil penilaian adalah adil dan dapat diterima oleh semua peserta.

Contoh Rubrik Penilaian Poster

Aspek Penilaian Skor Maksimal
Desain dan Layout 20
Isi dan Informasi 30
Originalitas dan Kreativitas 25
Kesesuaian dengan Tema dan Tujuan 20
Penataan dan Kerapian 5
Total Skor 100

Contoh Rubrik Penilaian Poster untuk Pembelajaran

Aspek Penilaian Skor Maksimal
Kreativitas 20
Pemahaman Materi 30
Keterbacaan dan Presentasi 25
Penggunaan Media yang Mendukung 20
Kesesuaian dengan Tema 5
Total Skor 100

  • Kreativitas: Mengukur tingkat kreativitas peserta dalam membuat poster, seperti desain unik dan penggunaan warna yang menarik.
  • Pemahaman Materi: Menilai tingkat pemahaman peserta terhadap materi yang diajarkan dan kemampuannya untuk menyajikan informasi secara jelas dan mudah dipahami.
  • Keterbacaan dan Presentasi: Menilai kejelasan dan keterbacaan tulisan dan elemen lain pada poster, serta kemudahan membaca jarak jauh.
  • Penggunaan Media yang Mendukung: Mengukur penggunaan media seperti gambar dan infografik untuk memperkuat pesan pada poster.
  • Kesesuaian dengan Tema: Menilai kesesuaian poster dengan tema yang diberikan dan bagaimana peserta memahami dan mengaplikasikan tema tersebut dalam poster mereka.

Rubrik penilaian poster ini dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Penting untuk memberikan bobot yang sama pada setiap aspek dan menjelaskan dengan jelas agar hasil penilaian dapat diterima dengan adil oleh semua peserta.
25 Aplikasi yang Bisa Digunakan Dalam Pembelajaran

25 Aplikasi yang Bisa Digunakan Dalam Pembelajaran

25 Aplikasi yang Bisa Digunakan Dalam Pembelajaran

25 Aplikasi yang Bisa Digunakan Dalam Pembelajaran



Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk pembelajaran. Berikut adalah beberapa contoh aplikasi yang mungkin bisa membantu Anda:

  1. Duolingo: Aplikasi belajar bahasa asing yang populer dan mudah digunakan. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki game yang menyenangkan untuk membantu Anda belajar.
  2. Khan Academy: Aplikasi belajar yang menyediakan pelajaran dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi secara gratis. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki banyak materi yang dapat dipelajari, termasuk matematika, sains, sosial, dan bahasa.
  3. Coursera: Aplikasi belajar yang menawarkan kelas online dari universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki banyak kelas yang dapat dipilih, termasuk teknologi, bisnis, dan ilmu sosial.
  4. Udemy: Aplikasi belajar yang menawarkan kelas online yang diberikan oleh instruktur independen. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki banyak kelas yang dapat dipilih, termasuk teknologi, bisnis, dan desain.
  5. LinkedIn Learning: Aplikasi belajar yang menawarkan kelas online yang diberikan oleh instruktur profesional. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki banyak kelas yang dapat dipilih, termasuk teknologi, bisnis, dan desain.
  6. edX: Aplikasi belajar yang menawarkan kelas online dari universitas-universitas terkemuka di seluruh dunia. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki banyak kelas yang dapat dipilih, termasuk teknologi, sains, dan ilmu sosial.
  7. Codecademy: Aplikasi belajar pemrograman yang menyediakan pelajaran interaktif yang membantu Anda belajar bahasa pemrograman seperti Python, HTML, dan JavaScript.
  8. Duolingo ABC: Aplikasi belajar baca dan tulis yang cocok untuk anak-anak yang baru belajar. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki game yang menyenangkan untuk membantu anak-anak belajar.
  9. ABCmouse: Aplikasi belajar yang cocok untuk anak-anak usia 3-8 tahun. Tersedia dalam banyak bahasa dan menyediakan pelajaran interaktif yang membantu anak-anak belajar tentang matematika, bahasa, dan sains.
  10. PBS Kids: Aplikasi belajar yang cocok untuk anak-anak usia 3-8 tahun. Tersedia dalam banyak bahasa dan menyediakan pelajaran interaktif yang membantu anak-anak belajar tentang matematika, bahasa, dan sains.
  11. Quizlet: Aplikasi belajar yang membantu Anda belajar kosa kata dan membuat flashcard. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki game yang menyenangkan untuk membantu Anda belajar.
  12. memrise: Aplikasi belajar bahasa asing yang menggunakan game dan visual yang menyenangkan untuk membantu Anda belajar kosa kata dan struktur bahasa.
  13. Babbel: Aplikasi belajar bahasa asing yang menyediakan pelajaran yang dibuat oleh native speaker. Tersedia dalam banyak bahasa dan memiliki game yang menyenangkan untuk membantu Anda belajar.
  14. Rosetta Stone: Aplikasi belajar bahasa asing yang menggunakan teknik immersion untuk membantu Anda belajar bahasa baru dengan cepat. Tersedia dalam banyak bahasa.
  15. Busuu: Aplikasi belajar bahasa asing yang menyediakan pelajaran yang dibuat oleh native speaker dan memiliki fitur komunitas yang memungkinkan Anda berinteraksi dengan orang lain yang sedang belajar bahasa yang sama.
  16. Kahoot!: Aplikasi yang memungkinkan Anda membuat dan mengadakan game-game pembelajaran interaktif. Cocok untuk digunakan dalam kelas atau kelompok belajar.
  17. ClassDojo: Aplikasi yang memungkinkan guru dan orang tua untuk terhubung dan berbagi informasi tentang kemajuan belajar anak. Juga menyediakan beragam materi pembelajaran yang dapat diakses oleh anak.
  18. Google Classroom: Aplikasi yang memungkinkan guru mengelola kelas online dan berbagi materi pembelajaran dengan siswa. Juga memiliki fitur yang memungkinkan siswa mengumpulkan dan mengirimkan tugas.
  19. Edmodo: Aplikasi yang memungkinkan guru mengelola kelas online dan berbagi materi pembelajaran dengan siswa. Juga memiliki fitur yang memungkinkan siswa berkomunikasi dengan guru dan siswa lainnya.
  20. My Study Life: Aplikasi yang membantu Anda mengelola jadwal belajar dan mengatur tugas. Juga memiliki fitur yang memungkinkan Anda mencatat deadline tugas dan membuat pengingat.
  21. MyHomework Student Planner: Aplikasi yang membantu Anda mengelola jadwal belajar dan mengatur tugas. Juga memiliki fitur yang memungkinkan Anda mencatat deadline tugas dan membuat pengingat.
  22. Blackboard: Aplikasi yang memungkinkan guru mengelola kelas online dan berbagi materi pembelajaran dengan siswa. Juga memiliki fitur yang memungkinkan siswa berkomunikasi dengan guru dan siswa lainnya.
  23. Moodle: Aplikasi yang memungkinkan guru mengelola kelas online dan berbagi materi pembelajaran dengan siswa. Juga memiliki fitur yang memungkinkan siswa mengumpulkan dan mengirimkan tugas.
  24. Brightspace: Aplikasi yang memungkinkan guru mengelola kelas online dan berbagi materi pembelajaran dengan siswa. Juga memiliki fitur yang memungkinkan siswa berkomunikasi dengan guru dan siswa lainnya.
  25. Canvas: Aplikasi yang memungkinkan guru mengelola kelas online dan berbagi materi pembelajaran dengan siswa. Juga memiliki fitur yang memungkinkan siswa mengumpulkan dan mengirimkan tugas.

Itu hanya beberapa contoh lain aplikasi yang bisa digunakan untuk pembelajaran. Tentu saja masih ada banyak aplikasi lain yang bisa Anda coba sesuai dengan kebutuhan dan keinginan Anda. Jangan lupa untuk terus belajar dan berlatih untuk meningkatkan kemampuan Anda.
Cara Pembelajaran Online via WA

Cara Pembelajaran Online via WA

Cara Pembelajaran Online via WA

Apakah Anda ingin tahu tentang cara belajar online melalui WhatsApp? Saya dapat memberikan beberapa saran:

  1. Tentukan tujuan pembelajaran Anda: Apakah Anda ingin belajar untuk meningkatkan keterampilan Anda, atau Anda hanya ingin menambah pengetahuan umum? Ini akan membantu Anda menentukan sumber belajar yang tepat.
  2. Cari sumber belajar yang terpercaya: Pastikan untuk mencari sumber belajar yang terpercaya dan teruji keandalannya. Anda dapat mencari sumber belajar online, seperti situs web atau kanal YouTube yang diakui keandalannya.
  3. Buat jadwal belajar yang teratur: Jadwal belajar yang teratur akan membantu Anda memastikan bahwa Anda memiliki waktu yang cukup untuk belajar.
  4. Buat catatan belajar: Mencatat apa yang Anda pelajari dapat membantu Anda mengingat informasi dengan lebih mudah di kemudian hari.
  5. Berdiskusi dengan teman-teman atau guru: Berdiskusi dengan teman-teman atau guru dapat membantu Anda memahami materi dengan lebih baik dan menjawab pertanyaan yang mungkin Anda miliki.
  6. Berlatih dan mengaplikasikan apa yang telah Anda pelajari: Latihan dan mengaplikasikan apa yang telah Anda pelajari dapat membantu Anda menguasai materi dengan lebih baik.

Saya harap saran-saran tersebut membantu Anda dalam belajar online melalui WhatsApp. 

Kelebihan dan Kekurangan WA untuk Pembelajaran

Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangan menggunakan WhatsApp untuk pembelajaran:

Kelebihan:

  1. WhatsApp memiliki aplikasi yang mudah digunakan dan tersedia di berbagai perangkat seluler.
  2. WhatsApp memungkinkan Anda berkomunikasi secara langsung dengan guru atau teman-teman belajar Anda, sehingga memudahkan pertanyaan atau kebingungan yang mungkin Anda miliki.
  3. WhatsApp dapat digunakan untuk mengirimkan materi pembelajaran, seperti dokumen atau video, sehingga memudahkan akses materi belajar.
Kekurangan:

  1. WhatsApp tidak memiliki fitur yang secara khusus dirancang untuk pembelajaran online, sehingga tidak ada fitur yang dapat membantu Anda mengatur atau mengikuti proses pembelajaran.
  2. WhatsApp tidak memiliki fitur yang memungkinkan Anda untuk menyimpan catatan atau menyusun materi belajar dengan terstruktur.
  3. WhatsApp tidak memiliki fitur yang memungkinkan Anda untuk melakukan ujian atau mengevaluasi kemajuan belajar Anda.
Saya harap penjelasan tersebut membantu Anda memahami kelebihan dan kekurangan menggunakan WhatsApp untuk pembelajaran.

Cara Pembelajaran Online via WA


Contoh Pembelajaran Lewat WA

Berikut ini adalah beberapa contoh cara menggunakan WhatsApp untuk pembelajaran:

  1. Menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan guru atau teman-teman belajar: Anda dapat menggunakan WhatsApp untuk bertanya atau berdiskusi dengan guru atau teman-teman belajar Anda mengenai materi yang sedang dipelajari. Ini dapat membantu Anda memahami materi dengan lebih baik dan menjawab pertanyaan yang mungkin Anda miliki.
  2. Mengirimkan materi pembelajaran melalui WhatsApp: Anda dapat menggunakan WhatsApp untuk mengirimkan dokumen, video, atau tautan ke sumber belajar lainnya kepada teman-teman atau guru Anda. Ini dapat memudahkan akses materi belajar.
  3. Menggunakan WhatsApp untuk belajar secara kelompok: Anda dapat membuat grup WhatsApp dengan teman-teman belajar Anda untuk belajar bersama. Ini dapat membantu Anda saling membantu dan berdiskusi mengenai materi yang sedang dipelajari.
  4. Menggunakan WhatsApp untuk mengirimkan tugas atau ujian: Anda dapat menggunakan WhatsApp untuk mengirimkan tugas atau ujian kepada guru atau teman-teman belajar Anda. Ini dapat membantu Anda mengevaluasi kemajuan belajar Anda.

Saya harap contoh-contoh tersebut membantu Anda memahami cara menggunakan WhatsApp untuk pembelajaran. 

Materi Pembelajaran: Penyakit Menular Seksual (PMS)

Materi Pembelajaran: Penyakit Menular Seksual (PMS)

Materi Pembelajaran: Penyakit Menular Seksual (PMS)


Tujuan pembelajaran Penyakit Menular Seksual (PMS):

  1. Memahami hakikat penyakit menular seksual (PMS).
  2. Memahami penyebab penyakit menular seksual (PMS).
  3. Memahami macam-macam penyakit menular seksual (PMS).
  4. Memahami langkah-langkah pencegahan dari penyakit menular seksual (PMS).

 

Penyakit Menular Seksual (PMS)


Hakikat Penyakit Menular Seksual (PMS)

Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit menular seksual ini juga dikenal dengan istilah infeksi menular seksual (IMS) dan penyakit kelamin (veneral disease).


Penyebab Penyakit Menular Seksual (PMS)

Umumnya, penyakit menular seksual cepat menular karena seseorang sering berganti-ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual.


Penyakit Herpes

Seseorang yang melakukan hubungan seksual dengan orang menderita penyakit herpes akan tertular penyakit menular seksual.


Transfusi Darah

Transfusi darah, seperti menggunakan jarum suntik yang sama dengan penderita PMS, dapat menularkan penyakit dengan cepat.


Ibu Hamil

Ibu hamil rentan menularkan penyakit menular seksual kepada bayinya. Umumnya, penyakit menular seksual yang diderita ibu hamil akan menular melalui proses menyusui.


Macam-Macam Penyakit Menular Seksual (PMS)

Berdasarkan Virus

  1. Herpes Progenitalis: Herpes progenitalis adalah penyakit yang disebabkan oleh virus herpes simpleks.
  2. Virus Hepatitis: Ada berbagai macam hepatitis atau radang hati, seperti hepatitis A, B, C, dan D.
  3. Lymphogranuloma Venereum (LGV): Penyakit lymphogranuloma venereum (LGV) adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus chlamydia trachomatis.


Berdasarkan Organisme dan Bakteri

  1. Gonore: Gonore atau yang dikenal dengan kencing nanah adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh kuman gonococcus.
  2. Sifilis: Sifilis adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya dan menular. Penyakit ini disebakan oleh salah satu kuman, yaitu spirochaeta.
  3. Vaginitis: Vaginitis adalah salah satu penyakit menular seksual yang menyerang organ vital perempuan. Gejala vaginitis ini ditandai dengan adanya peradangan pada vagina.
  4. HIV: HIV adalah sejenis virus yang melumpuhkan kekebalan tubuh manusia dan dapat menyebabkan penyakit AIDS.
  5. Klamidia: Klamidia adalah penyakit penular seksual atau infeksi yang menyerang saluran kencing, leher rahim, dan saluran indung telur.
  6. Chancroid: Chancroid adalah salah satu penyakit menular seksual akut yang menyerang bagian genitalia, yaitu alat kelamin. Penyakit ini disebabkan oleh virus streptobacillus ducrey.
  7. Granula Inguinale: Granula inguinale adalah peradangan menahun yang menyerang alat kelamin. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri calymmatobacterium granulomatis.


Berdasarkan Parasit

  1. Trichomoniasis: Penyakit Trichomoniasis biasanya sering disebut dengan trich. Penyakit ini disebabkan oleh parasat yang disebut trichomonas vaginalis.
  2. Pediculosis Pubis: Pediculosis pubis adalah penyakit menular seksual yang menyerang bagian genitalia. Penyakit ini disebabkan oleh adanya parasit, yaitu kutu phtyhirus pubis.


Langkah-Langkah Pencegahan dari  Penyakit Menular Seksual (PMS)

Pendidikan Seks

Pendidikan seks adalah penerangan mengenai anatomi, seperti pertumbuhan rambut pada ketiak dan sekitar alat kelamin serta mengenai proses reproduksi melalui hubungan seks.

Tujuan pendidikan seks

  1. Membentuk pengertian tentang perbedaan seks antara pria dan wanita dalam keluarga, pekerjaan, dan seluruh kehidupan.
  2. Membentuk pengertian tentang seks di dalam kehidupan manusia dan keluarga, seperti perasaan seks dalam perkawinan.
  3. Mengembangkan pengertian diri sendiri sehubungan dengan fungsi dan kebutuhan seks. Jadi, pendidikan seks dalam arti sempit adalah pendidikan mengenai seksualitas manusia.
  4. Membantu peserta didik dalam mengembangkan kepribadian sehingga mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, misalnya menjaga norma sosial dan agama di masyarakat.


Manfaat pendidikan seks bagi remaja

  1. Dapat mencegah penyimpangan dan kelainan seksual.
  2. Dapat memelihara tegaknya nilai-nilai norma.
  3. Dapat mengatasi gangguan psikis.
  4. Dapat memberi pengetahuan dalam menghadapi perkembangan anak.


Pendidikan Agama

  1. Memisahkan tempat tidur anak.
  2. Meminta izin ketika memasuki kamar orang tua.
  3. Mengajarkan adab memandang lawan jenis.
  4. Larangan menyebarkan rahasia suami-istri.


Keluarga

  1. Faktor keluarga sangat menentukan dalam masalah pendidikan seks sehingga perilaku seks bebas dapat dihindari.
  2. Keluarga harus mengerti tentang permasalahan seks sebelum menjelaskannya kepada anak-anak mereka.
  3. Seorang ayah mengarahkan anak laki-laki dan seorang ibu mengarahkan anak perempuan dalam menjelaskan masalah seks.
  4. Jangan menjelaskan masalah seks pada anak-anak laki-laki dan perempuan pada waktu dan ruang yang sama.

Contoh Prilaku Demokratis di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Bangsa dan Negara

Contoh Prilaku Demokratis di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Bangsa dan Negara

Contoh Prilaku Demokratis


Contoh Prilaku Demokratis di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Bangsa dan Negara


Contoh Prilaku Demokratis di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Bangsa dan Negara - Demokrasi tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan dari masyarakatnya. Adanya demokrasi tidak terlepas dari kenyamanan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana pemerintah tidak sewenang-wenang baik dari penguasa maupun masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, nilai-nilai demokrasi hanya mungkin terwujud ketika rakyat menginginkan terwujudnya kehidupan tersebut.


Untuk menjalankan kehidupan yang demokratis, kita dapat memulainya dengan belajar berbagai contoh Prilaku Demokratis di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Bangsa dan Negara. Beberapa prinsip yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah :

  1. membisakan diri untuk berbuat sesuai dengan aturan main atau hukum yang berlaku;
  2. membiasakan diri bertindak demokratis dalam segala hal;
  3. membiasakan diri menyelesaikan persoalan dengan musyawarah;
  4. membiasakan diri mengadakan perubahan secara damai tidak dengan kekerasan;
  5. membiasakan diri untuk memilih pemimpin-pemimpin melalui cara-cara yang demokratis;
  6. selalu menggunakan akal sehat dan hati nurani luhur dalam musyawarah;
  7. selalu mempertanggungjawabkan hasil keputusan musyawarah baik kepada Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat, bangsa dan negara bahkan secara pribadi;
  8. menuntut hak setelah melaksanakan kewajiban;
  9. menggunakan kebebasan dengan rasa tanggung jawab;
  10. mau menghormati hak orang lain dalam menyampaikan pendapat;
  11. membiasakan diri memberikan kritik yang bersifat membangun.


Demokrasi juga bersumber pada nilai-nilai sosial budaya bangsa serta berdasarkan nilai luhur Pancasila yakni musyawarah mufakat seluruh masyarakat. Apa saja perilaku yang mencerminkan demokrasi? Berikut Contoh Prilaku Demokratis di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, Sekolah, Bangsa dan Negara


Contoh Prilaku Demokratis Dalam Lingkungan Keluarga

  1. Tidak memaksakan kehendak kepada anggota keluarga
  2. Menghormati orang tua tanpa pamrih.
  3. Berbagi kewajiban di rumah, seperti membantu orang tua membersihkan rumah.


Contoh Prilaku Demokratis Dalam Lingkungan Sekolah

  1. Aktif dalam kegiatan diskusi kelas.
  2. Melakukan pemilihan pengurus OSIS dengan tertib dan adil.
  3. Tidak memilih-milih teman



Contoh Prilaku Demokratis Dalam Lingkungan Masyarakat

  1. Memilih pengurus RT, RW, hingga Kepala Desa dengan musyawarah dengan adil dan jujur.
  2. Tidak melakukan diskriminasi antar warga.
  3. Ikut serta dalam kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan.


Contoh Prilaku Demokratis Dalam Lingkungan Berbangsa dan Bernegara

  1. Mendukung kelancaran proses Pemilihan Umum
  2. Berani menyampaikan pendapat dengan baik.
  3. Tidak bertindak berdasarkan SARA.


AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI

Kerjakan dalam buku tulis kalian beberapa soal berikut ini! Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kalian tentang unit ini, jawablah pertanyaan di bawah ini!

  1. Setelah kalian mempelajari materi demokrasi, tentunya kalian semakin paham betapa pentingnya mewujudkan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Coba kalian renungkan. Sudah sejauh manakah kalian melaksanakan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari? Coba uraikanlah dalam satu paragraf perwujudan nilai-nilai demokrasi yang SUDAH kalian lakukan dalam kehidupan sehari-hari!
  2. Menurut anda, apakah demokrasi Pancasila di negara kita sudah dibilang berjalan dengan baik? Jika ya, sebutkan alasannya? Jika tidak, sebutkan alasannya?
  3. Menurut anda bagaimana cara agar demokrasi dapat diterapkan dengan baik?
  4. Menurut anda bagaimana kebebasan mengutarakan pendapat yang ada di sekolahmua? apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai Pancasila? Sebutkan alasannya!
  5. Jelaskan dengan bahasamu sendiri, apa saja yang dianggap sebagai pelanggaran dalam sistem demokrasi?
Kerjakan dalam buku tulis anda kemudian serahkan pada Guru anda setelah itu diskusikanlah!

 

"Demokrasi bukan hanya hak untuk memilih; itu adalah hak untuk hidup bermartabat." - Naomi Klein



Lingkungan Belajar: Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhinya

Lingkungan Belajar: Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhinya

 

Lingkungan Belajar: Pengertian dan Faktor yang Mempengaruhinya

Lingkungan Belajar


lingkungan belajar adalah suasana yang menyenangkan dan menguntungkan bagi anak untuk belajar. Lingkungan belajar yang baik memiliki karakteristik yang kuat seperti kebutuhan yang dibutuhkan anak-anak, memiliki variasi berbagai bentuk permainan, memberikan pengalaman dan menyediakan fasilitas bermain layaknya di luar rumah.


A. Pengertian lingkungan belajar

Lingkungan belajar adalah tempat yang menyenangkan untuk anak belajar. Anak akan berkonsentrasi dengan baik jika lingkungan belajarnya adalah tempat yang menarik dan dapat membuatnya pembelajaran lebih mudah.


Lingkungan belajar terdiri dari berbagai komponen seperti:

  1. Ruang pembelajaran (classroom)
  2. Tempat sirkulasi (corridor)
  3. Ruang kelas tambahan (extra classroom)


B. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan belajar

  1. Kebersihan dan keindahan
  2. Kebiasaan yang baik/buruk
  3. Perilaku sosial anak kecil


C. Memahami kebutuhan anak melalui bermain


  1. Anda harus memahami bahwa anak-anak belajar melalui bermain.
  2. Anak-anak belajar melalui interaksi dengan lingkungannya.
  3. Bermain adalah cara komunikasi yang luar biasa penting bagi anak-anak sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya secara optimal.


D. Menyediakan lingkungan belajar

Setelah mempelajari konsep dan teori tentang lingkungan belajar, Anda ingin tahu bagaimana cara menyediakan lingkungan belajar. Bagi para guru, hal ini tentu lebih mudah sebagai mereka hanya perlu mengatur dengan anggota kelasnya sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan. Tapi bagaimana jika Anda tidak bisa membuat segala macam meja untuk semua anggota kelas?

Belajar tidak hanya dilaksanakan di dalam ruangan seperti kamar saya atau kamar Anda saat ini, tapi juga dilakukan di luar ruangan (outdoor learning). Oleh karena itu saya akan memberikan sedikit panduan yang ia inginkan agar anda bisa menyediakannya sendiri.


  1. lingkungan belajar yang menyenangkan akan memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi anggota keluarga
  2. Lingkungan belajar yang menyenangkan akan memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi anggota keluarga.
  3. Dengan lingkungan belajar yang menyenangkan, anak akan bisa belajar dengan lebih giat dan bersemangat.


Rumah keluarga merupakan lingkungan belajar pertama dan terpenting bagi anak. Di sinilah kaum muda membangun pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap mereka. Oleh karena itu, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendorong pembelajaran dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensinya melalui kegiatan bermain.

Pembelajaran Berbasis Projek di SMK

Pembelajaran Berbasis Projek di SMK

Pembelajaran Berbasis Projek di SMK


Pembelajaran Berbasis Projek di SMK

Definisi Pembelajaran Berbasis Projek

Pembelajaran berbasis projek adalah pembelajaran yang menggunakan projek sebagai media dalam proses pembelajaran untuk mencapai soft skills, hard skills, dan karakter.


Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas-aktivitas murid dalam menghasilkan produk yang menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, hingga mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.


Produk yang dimaksud adalah hasil projek berupa barang atau jasa dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain.


Tujuan Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Projek:

  1. Meningkatkan kepercayaan dunia kerja terhadap SMK dan tamatan SMK
  2. Mendukung sertifikasi kompetensi murid oleh industri
  3. Meningkatkan produktivitas SMK berbasis produk standar industri
  4. Merancang pembelajaran yang seimbang dalam pembekalan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
  5. Mudah memusatkan perhatian murid dalam belajar pada satu projek
  6. Meningkatkan efektifitas pembelajaran, karena semua mata pelajaran/kompetensi yang relevan dipelajari dalam projek yang sama
  7. Memiliki penguasaan kompetensi lebih mendalam dan berkesan
  8. Mengarahkan murid agar mampu bekerja dengan profesional di dunia kerja
  9. Menyiapkan murid agar memiliki kompetensi teknis (hard skills)
  10. Membudayakan budaya kerja industri, terutama budaya mutu, efisiensi, dan kreativitas
  11. Memberikan wahana pengalaman belajar murid dengan pengalaman berhasil

Prinsip Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Projek:

  1. Kerja sama produk dan pembelajaran sekolah dengan dunia kerja
  2. Pembelajaran melalui projek riil dari dunia kerja dengan memperhatikan nilai ekonomis dan ketepatan waktu penyerahan produk
  3. Proses pembelajaran rangkaian projek utuh dari analisis order sampai layanan purna jual (layanan setelah jual-beli)
  4. Kolaborasi antar mata pelajaran sesuai kompetensi/elemen kompetensi capaian pembelajaran
  5. Keseimbangan kompetensi hard skill, soft skill, dan karakter
  6. Pengembangan budaya kerja dunia kerja
  7. Pemanfaatan fasilitas dunia kerja

Implementasi

  1. Pembelajaran berbasis projek dilaksanakan melalui projek yang merupakan order dari dunia kerja, atau kreativitas guru dan murid dalam menghasilkan produk unggulan SMK.
  2. Berdasarkan order, sekolah melaksanakan analisis untuk memastikan apakah pekerjaan dapat dilaksanakan atau tidak, dengan memperhatikan penguasaan kompetensi (capaian pembelajaran) murid dan guru, serta fasilitas sekolah.
  3. Jika berdasarkan analisis pekerjaan dapat dilaksanakan, selanjutnya dilakukan persiapan dan pelaksanaan pembelajaran.
  4. Proses pembelajaran menyatu pada proses produksi/layanan jasa. Secara kontekstual, murid diberikan pengalaman belajar pada situasi yang nyata dengan suasana dunia kerja.
  5. Pembelajaran berisikan beberapa atau seluruh kompetensi pada satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran SMK sesuai projek.
  6. Murid belajar mulai dari menganalisis spesifikasi dan persyaratan produk (barang/jasa) order dari dunia kerja/permintaan pasar, perencanaan dan proses produksi, evaluasi proses, penilaian hasil produksi, penjaminan mutu produk, pemasaran, distribusi, hingga pelayanan purna jual (layanan setelah jual-beli).

Prinsip Pembelajaran dan Asesmen - Kurikulum Merdeka

Prinsip Pembelajaran dan Asesmen - Kurikulum Merdeka

Prinsip Pembelajaran dan Asesmen - Kurikulum Merdeka


Prinsip Pembelajaran dan Asesmen

Prinsip Pembelajaran - Pembelajaran merupakan proses interaksi antara murid, guru, dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Prinsip pembelajaran pada Kurikulum Merdeka adalah sebagai berikut:


Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian murid, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan murid yang beragam. Dengan demikian, pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. 

Contoh:

  • Pada awal tahun ajaran, guru berusaha mencari tahu kesiapan belajar murid dan pencapaian sebelumnya. Misal: melalui dialog dengan murid, sesi diskusi kelompok kecil, tanya jawab, pengisian survei/angket, dan/atau metode lainnya yang sesuai.
  • Guru merancang atau memilih ATP sesuai dengan tahap perkembangan murid, atau mengacu ke tahap awal. Guru bisa menggunakan atau mengadaptasi contoh tujuan pembelajaran, ATP, dan modul ajar yang disediakan oleh Kemendikbudristek.
Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas murid menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Contoh:

  • Guru mendorong murid untuk melakukan refleksi untuk memahami kekuatan diri dan area yang perlu dikembangkan.
  • Guru senantiasa memberikan umpan balik langsung yang mendorong kemampuan murid untuk terus belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan.

Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter murid secara holistik.

Contoh:

  • Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi dan untuk membantu murid mengembangkan kompetensi. Misal: belajar berbasis inkuiri, berbasis projek, berbasis masalah, dan pembelajaran terdiferensiasi.
  • Guru merefleksikan proses dan sikapnya untuk memberi keteladanan dan sumber inspirasi positif bagi murid.

Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya murid, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra.

Contoh:

  • Guru menyelenggarakan pembelajaran sesuai kebutuhan dan dikaitkan dengan dunia nyata, lingkungan, dan budaya yang menarik minat murid.
  • Guru merancang pembelajaran interaktif untuk memfasilitasi interaksi yang terencana, terstruktur, terpadu, dan produktif antara guru dan murid, sesama murid, serta antara murid dan materi belajar.

Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

Contoh:

  • Guru berupaya untuk mengintegrasikan prinsip kehidupan keberlanjutan (sustainable living) pada berbagai kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai dan perilaku yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bumi. Misal: menggunakan sumber daya secara bijak (hemat air, listrik, dll.), mengurangi sampah.
  • Guru memotivasi murid untuk menyadari bahwa masa depan adalah milik mereka, sehingga mereka perlu mengambil peran dan tanggung jawab untuk masa depan mereka.

Prinsip Asesmen

Asesmen atau penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar murid. Prinsip asesmen adalah sebagai berikut:


Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi pembelajaran, dan penyediaan informasi yang holistik, sebagai umpan balik untuk guru, murid, dan orang tua/wali agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.

Contoh:

  • Guru menguatkan asesmen di awal pembelajaran yang digunakan untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kesiapan murid.
  • Guru merencanakan pembelajaran dengan merujuk pada tujuan yang hendak dicapai dan memberikan umpan balik agar murid menentukan langkah untuk perbaikan ke depannya.

Asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran.

Contoh:

  • Guru memikirkan tujuan pembelajaran pada saat merencanakan asesmen dan memberikan kejelasan pada murid mengenai tujuan asesmen di awal pembelajaran.
  • Guru menggunakan teknik asesmen yang beragam sesuai dengan fungsi dan tujuan asesmen. Hasil dari asesmen formatif digunakan untuk umpan balik pembelajaran, sementara hasil dari asesmen sumatif digunakan untuk pelaporan hasil belajar.

Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan tentang langkah selanjutnya, dan sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai ke depannya.

Contoh:

  • Guru menyediakan waktu dan durasi yang cukup agar asesmen menjadi sebuah proses pembelajaran dan bukan hanya untuk kepentingan menguji.
  • Guru menentukan kriteria sukses dan menyampaikannya pada murid, sehingga mereka memahami ekspektasi yang perlu dicapai.

Laporan kemajuan belajar dan pencapaian murid bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai, serta strategi tindak lanjut.

Contoh:

  • Guru menyusun laporan kemajuan belajar secara ringkas, mengutamakan informasi yang paling penting untuk dipahami oleh murid dan orang tua.
  • Guru memberikan umpan balik secara berkala kepada murid dan mendiskusikan tindak lanjutnya bersama-sama, serta melibatkan orang tua.

Hasil asesmen digunakan oleh murid, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Contoh:

  • Guru menyediakan waktu untuk membaca, menganalisis, dan melakukan refleksi hasil asesmen.
  • Guru menggunakan hasil asesmen sebagai bahan diskusi untuk menentukan hal-hal yang sudah berjalan baik dan area yang perlu diperbaiki.

Satuan pendidikan memiliki strategi agar hasil asesmen digunakan sebagai refleksi oleh murid, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua untuk meningkatkan mutu pembelajaran.


Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Teaching at The Right Level

Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Teaching at The Right Level

Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Teaching at The Right Level

Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Pembelajaran sesuai tahap capaian belajar murid (teaching at the right level) adalah pendekatan belajar yang berpusat pada kesiapan belajar murid, bukan pada tingkatan kelas.


Apa tujuan pembelajaran ini?

  • Sebagai bentuk implementasi filosofi ajar Ki Hadjar Dewantara yang berpusat pada murid
  • Menguatkan kompetensi numerasi dan literasi murid
  • Agar setiap murid mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan

Bagaimana pembelajaran dilakukan?

Murid dalam fase perkembangan yang sama bisa memiliki tingkat pemahaman dan kesiapan yang berbeda. Karena itu, pada model pembelajaran ini, cara dan materi pembelajaran divariasikan berdasarkan tingkat pemahaman dan kesiapan murid.


Apa itu fase perkembangan?

Fase atau tingkatan perkembangan adalah capaian pembelajaran yang harus dicapai murid, yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi, serta kebutuhannya.


SD, SMP, SMA, SMK (MI, MTs, MA, MAK)

  • Fase A: SD/MI kelas 1–2
  • Fase B: SD/MI kelas 3–4
  • Fase C: SD/MI kelas 5–6
  • Fase D: SMP/MTs kelas 7–9
  • Fase E: SMA/MA, SMK/MAK kelas 10
  • Fase F: SMA/MA, SMK/MAK kelas 11–12

Sekolah Luar Biasa

  • Fase A: usia mental ≤ 7 tahun
  • Fase B: usia mental ± 8 tahun
  • Fase C: usia mental ± 8 tahun
  • Fase D: usia mental ± 9 tahun
  • Fase E: usia mental ± 10 tahun
  • Fase F: usia mental ± 10 tahun

Sinkronisasi Jenjang, Usia Mental, dan Usia Kronologis

Fase A

  • Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 1–2)
  • Usia kronologis: ≤ 6–8 tahun
  • Usia mental: ≤ 7 tahun

Fase B

  • Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 3–4)
  • Usia kronologis: 9–10 tahun
  • Usia mental: ± 8 tahun

Fase C

  • Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 5–6)
  • Usia kronologis: 11–12 tahun
  • Usia mental: ± 8 tahun

Fase D

  • Jenjang/kelas: SMP/MTs (kelas 7–9)
  • Usia kronologis: 13–15 tahun
  • Usia mental: ± 9 tahun

Fase E

  • Jenjang/kelas: SMA/MA, SMK/MAK (kelas 10)
  • Usia kronologis: 16–17 tahun
  • Usia mental: ± 10 tahun

Fase F

  • Jenjang/kelas: SMA/MA, SMK/MAK (kelas 11–12)
  • Usia kronologis: 17–23 tahun
  • Usia mental: ± 10 tahun

Bagaimana cara menentukan kemajuan hasil belajar?

Kemajuan hasil belajar murid dilakukan melalui evaluasi pembelajaran atau asesmen. Murid yang belum mencapai capaian pembelajaran akan mendapatkan pendampingan agar mencapai capaian pembelajarannya.


Bagaimana tahapan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen?

Perencanaan

Guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, yang mencakup rencana asesmen formatif yang akan dilakukan di awal pembelajaran dan asesmen sumatif di akhir pembelajaran.


Asesmen Awal Pembelajaran

  • Asesmen awal bertujuan untuk untuk menilai kesiapan masing-masing murid untuk mempelajari materi yang telah dirancang.
  • Dengan demikian, guru bisa melakukan pengelompokkan murid berdasarkan tingkat kesiapan yang sama.

Pembelajaran

  • Selama proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen formatif secara berkala.
  • Di akhir proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen sumatif sebagai proses evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini juga bisa digunakan sebagai asesmen awal pada pembelajaran berikutnya.


Strategi Pembelajaran yang Efektif Pengertian dan Contohnya

Strategi Pembelajaran yang Efektif Pengertian dan Contohnya

Strategi Pembelajaran (Gambar oleh AkshayaPatra Foundation dari Pixabay)

Strategi pembelajaran adalah kombinasi dari beberapa rangkaian kegiatan, cara mengorganisasikan materi pelajaran siswa, bahan, alat, dan waktu yang digunakan untuk proses pembelajaran dalam mencapai tujuan kegiatan pembelajaran yang telah ditentukan. Strategi pembelajaran digunakan oleh guru untuk meningkatkan penguasaan materi dan prestasi belajar siswa. Guna dapat menyampaikan pembelajaran dengan efektif dan efisien, guru perlu mengetahu berbagai jenis strategi pembelajaran sehingga mampu memilih strategi manakah yang paling tepat, efektif, dan efisien untuk mengajarkan suatu bidang studi tertentu.


Secara umum ada beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran.

1. Teknik Membaca Jigsaw: Teknik membaca dalam kelompok kecil yang fokus pada topik yang sama untuk membangun pemahaman dan kemudian saling berbagi pemahaman dengan anggota kelompok yang lain. Teknik ini membantu peserta didik mengembangkan tanggung jawab atas pemahamannya.


2. Grafik Pengorganisasi TIK: Grafik yang digunakan untuk membantu peserta didik pengorganisasikan informasi sebelum, saat dan setelah pembelajaran. Grafik ini membantu peserta didik untuk mengaktikan pengetahuan sebelumnya dan mengaitkan dengan pengetahuan yang baru.


3. Releksi: Kegiatan yang ditujukan untuk memeriksa pencapaian peserta didik pada akhir pembelajaran. Kegiatan ini membantu proses asesmen pada diri sendiri. 


4. Proyek: Kegiatan yang meminta peserta didik menghasilkan sebuah produk (media visual) dari hasil pengolahan dan sintesis informasi. Kegiatan ini membantu peserta didik mengekspresikan pemahaman dalam bentuk yang variatif.


5. 2 Stay 3 Stray: Teknik presentasi dan membagikan hasil diskusi kelompok dengan membagi ke dalam dua peran besar yaitu yang bertugas membagikan hasil diskusi dan yang bertugas mendengarkan hasil diskusi kelompok lain. Teknik ini membantu peserta didik untuk berlatih tanggung jawab kelompok dan pemahaman.


6. Diskusi Kelompok: Berdiskusi dalam kelompok kecil untuk memaksimalkan peran setiap anggota kelompok. Dilanjutkan dengan berbagi informasi dari kelompok sebelumnya serta berdiskusi dalam kelompok baru untuk memperoleh tanggapan lebih banyak.


7. Jurnal Harian: Mencatat aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan. Kegiatan ini membantu proses penilaian capaian yang berkaitan dengan penerapan nilai.


8. Project Based Learning: Metode pembelajaran berbasis proyek/kegiatan. Project based learning merupakan salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (Student Centered Learning), di mana peserta didik melakukan investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Dalam konteks ini, peserta didik secara konstruktif dan kolaboratif melakukan pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap suatu permasalahan.


Jadi, strategi pembelajaran merupakan salah satu bagian penting yang harus dipahami oleh guru. Strategi pembelajaran dirangkai berdasarkan suatu pendekatan tertentu. Oleh karena itu, sebelum diuraikan tentang strategi pembelajaran, terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian pendekatan.

"Belajar tidak dicapai secara kebetulan, itu harus dicari dengan semangat dan ketekunan." -- Abigail Adams


Pengertian LMS dan 5 Fitur Unggulannya

Pengertian LMS dan 5 Fitur Unggulannya

LMS atau Learning Management System

Para akademisi mungkin tidak asing dengan LMS atau Learning Management System. Software ini dirancang untuk menyampaikan konten pembelajaran. 


Pengertian LMS tidak asing lagi dalam dunia pendidikan sejak pandemi COVID-19. Para pendidik tentunya harus terbiasa dengan hal-hal baru yang menunjang pembelajaran termasuk LMS. Tujuan dihadirkannya hal baru ini adalah untuk memudahkan proses belajar mengajar secara daring.  Pengertian LMS (Learning Management System) adalah sebuah software yang digunakan untuk mengatur dan memberikan konten belajar. Termasuk di dalamnya metode belajar, pembuatan silabus, mengelola, dan menyuguhkan materi online kepada pelajar.  


Dulu sistem ini lebih akrab disebut e-learning yang dihadirkan guna memudahkan para pengajar dalam pembelajaran online. Selain pengajaran, para pelajar pun menjadi lebih mudah dalam mengakses pelajaran. 


LMS memiliki fitur yang sangat berguna untuk mendukung proses pembelajaran, seperti: 


ANTARMUKA YANG RAMAH (MOBILE FRIENDLY)

Perangkat lunak ini memiliki antarmuka yang responsif dan mudah digunakan. Penggunaannya sangat intuitif, sehingga pengguna tidak akan bingung saat membuka software ini. Selain itu, tampilannya yang menarik membuat lebih nyaman bagi penggunanya. 


REGISTRASI ONLINE 

Ini adalah salah satu fitur yang diperlukan untuk memungkinkan siswa mendaftar secara online dari halaman tertentu. Pendaftaran harus semudah mungkin karena berkaitan dengan pembelajaran dan referensi rencana pelajaran. 


KELAS ONLINE 

Adanya LMS memungkinkan guru untuk membuat kelas online dimana proses belajar mengajar dapat dilakukan tanpa kontak fisik. Kelas online memiliki materi pembelajaran seperti video, animasi, rekaman audio, artikel, dan e-book. 


KONFERENSI VIDEO 

Fitur ini memungkinkan guru dan siswa untuk bertemu tatap muka secara online. Perangkat ini memungkinkan komunikasi secara efektif antara dua pihak atau lebih melalui audio dan video.


KUIS DAN UJIAN 

Kuis dan ujian diperlukan untuk menilai proses pembelajaran yang dilakukan. Fitur ini sangat berguna untuk memperlancar distribusi soal kepada siswa. 


Itulah pengertian LMS (Learning Management System) beserta beberapa fitur yang mendukung pembelajaran. Dengan adanya software ini diharapkan pembelajaran tetap efektif, meski dalam suasana daring.

"Teknologi hanyalah alat. Dalam hal membuat anak-anak bekerja bersama dan memotivasi mereka, guru adalah yang paling penting." -- Bill Gates


RPP - Media Pembelajaran Anti Korupsi

RPP - Media Pembelajaran Anti Korupsi




Susunan RPP PPKn dengan Pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi - Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan panduan kegiatan guru dalam proses belajar mengajar. RPP berisikan tentang uraian kegiatan peserta didik didalam kelas dalam proses pembelajaran yang terintegrasi dengan Pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi. RPP merupakan penjabaran dari silabus dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar yang telah ditentukan.

Sedangkan, dalam RPP ini diberikan tambahan nilai-nilai Pendidikan Anti Korupsi (PAK). Pendidikan antikorupsi merupakan tindakan untuk mengendalikan dan mengurangi korupsi berupa keseluruhan upaya untuk mendorong generasi mendatang untuk mengembangkan sikap menolak secara tegas terhadap setiap bentuk korupsi.

Lembaga pendidikan merupakan basis pendidikan karakter generasi muda Indonesia untuk jangka panjang. Pada tatanan ini, sangat penting menanamkan pendidikan anti korupsi secara berkesinambungan.

Pelaksanaan pendidikan anti korupsi di sekolah  sebenarnya merupakan cara untuk mengatasi mentalitas dan sikap-sikap dasar yang mengarah pada tindakan korupsi yang curang.

Dalam proses pembelajaran misalnya, seorang siswa atau mahasiswa yang mencontek saat ujian, sebenarnya ini adalah tindakan korupsi nyata yang dilakukan dalam skala kecil.

Selamat belajar! Berani Jujur Hebat!