Tampilkan postingan dengan label Kurikulum Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum Merdeka. Tampilkan semua postingan
 Contoh Penerapan Belajar Merdeka yang diterapkan dalam Pendidikan Sekolah

Contoh Penerapan Belajar Merdeka yang diterapkan dalam Pendidikan Sekolah

Contoh Penerapan Belajar Merdeka yang diterapkan dalam Pendidikan Sekolah


Belajar merdeka adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa diberi kebebasan untuk mengikuti minat dan kemampuan mereka sendiri, serta diberi tanggung jawab untuk mengelola proses belajar mereka sendiri. Berikut adalah beberapa contoh cara belajar merdeka dapat diterapkan dalam pendidikan sekolah:

  1. Menyediakan banyak sumber belajar yang tersedia bagi siswa, seperti buku teks, video, dan game edukasi, sehingga siswa dapat memilih sumber belajar yang paling sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.
  2. Memberikan siswa kebebasan untuk memilih topik yang ingin dipelajari selama jam belajar. Ini bisa dilakukan dengan memberikan siswa pilihan topik atau meminta mereka mengajukan ide topik sendiri.
  3. Mengizinkan siswa untuk menentukan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan tugas atau proyek belajar. Ini bisa berupa penyelesaian tugas secara individu atau kelompok.
  4. Memberikan siswa tanggung jawab untuk mengelola waktu belajar mereka sendiri dan menetapkan tujuan belajar yang ingin dicapai.
  5. Menyediakan bimbingan dan dukungan dari guru atau pembimbing belajar untuk membantu siswa mencapai tujuan belajar mereka.
  6. Mengajarkan siswa cara menemukan dan menggunakan sumber belajar yang tepat untuk membantu mereka mencapai tujuan belajar mereka.
  7. Menyediakan ruang belajar yang nyaman dan kondusif bagi siswa untuk mengelola proses belajar mereka sendiri.
  8. Menghargai partisipasi dan kontribusi siswa dalam proses belajar dan memberikan umpan balik yang membangun.

 Contoh Penerapan Belajar Merdeka yang diterapkan dalam Pendidikan Sekolah


Penerapan belajar merdeka dalam pendidikan sekolah memiliki beberapa keuntungan yang dapat membantu siswa dalam proses belajar. Beberapa keuntungan tersebut diantaranya adalah:


  1. Meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar. Dengan memberikan siswa kebebasan untuk memilih topik dan cara belajar yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka, maka akan membantu meningkatkan motivasi siswa dalam belajar.
  2. Meningkatkan kreativitas dan inovasi siswa. Dengan diberikan kebebasan untuk mengelola proses belajar mereka sendiri, siswa dapat mengembangkan kreativitas dan inovasi mereka untuk menyelesaikan tugas atau proyek belajar.
  3. Meningkatkan kemandirian siswa. Dengan memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk mengelola waktu belajar mereka sendiri dan menetapkan tujuan belajar yang ingin dicapai, maka akan membantu meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar.
  4. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan dan menggunakan sumber belajar yang tepat. Dengan diajarkan cara menemukan dan menggunakan sumber belajar yang tepat, maka akan membantu siswa untuk lebih efektif dalam mencapai tujuan belajar mereka.
  5. Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Dengan diberikan kebebasan untuk bekerja secara individu atau kelompok, maka akan membantu siswa untuk lebih efektif dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain.
  6. Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengelola waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Dengan diberikan tanggung jawab untuk mengelola waktu belajar mereka sendiri, siswa akan belajar untuk mengelola waktu dengan lebih baik dan menyelesaikan tugas tepat waktu.
  7. Meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar secara mandiri. Dengan diberikan kebebasan untuk mengelola proses belajar mereka sendiri, siswa akan belajar untuk belajar secara mandiri dan menemukan cara belajar yang efektif bagi mereka.
  8. Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengambil keputusan. Dengan diberikan kebebasan untuk memilih topik dan cara belajar yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka, siswa akan belajar untuk mengambil keputusan dengan baik dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut.
  9. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan dan mengeksplorasi minat mereka. Dengan diberikan kebebasan untuk memilih topik yang ingin dipelajari, siswa akan lebih mudah menemukan dan mengeksplorasi minat mereka, sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi belajar mereka.
  10. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah. Dengan diberikan kebebasan untuk mengelola proses belajar mereka sendiri, siswa akan belajar untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara yang kreatif dan inovatif.
  11. Itulah beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan belajar merdeka dalam pendidikan sekolah. Semoga informasi ini dapat membantu.


Cara Penyusunan Kalender Pendidikan

Cara Penyusunan Kalender Pendidikan

Cara Penyusunan Kalender Pendidikan

Kalender Pendidikan


Kalender pendidikan adalah jadwal atau rencana kegiatan yang terdiri dari jadwal pelajaran, libur sekolah, dan kegiatan lainnya yang terdapat di sebuah sekolah atau lembaga pendidikan. Penyusunan kalender pendidikan harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  • Kebutuhan akademik: Jadwal pelajaran harus disusun sesuai dengan kebutuhan akademik, seperti jumlah jam pelajaran per minggu, jumlah mata pelajaran yang akan diajarkan, dan lain-lain.
  • Kebutuhan non-akademik: Selain kegiatan akademik, kalender pendidikan juga harus memperhitungkan kegiatan non-akademik, seperti kegiatan ekstrakurikuler, lomba, dan lain-lain.
  • Hari libur: Hari libur seperti hari raya, hari besar nasional, dan lain-lain harus dijadikan hari libur sekolah.
  • Kebutuhan tenaga kependidikan: Kalender pendidikan juga harus memperhitungkan kebutuhan tenaga kependidikan, seperti jadwal cuti guru, jadwal seminar, dan lain-lain.
  • Kebutuhan sarana dan prasarana: Penyusunan kalender pendidikan harus memperhitungkan kebutuhan sarana dan prasarana, seperti jadwal perawatan gedung sekolah, jadwal pemeliharaan alat-alat pendidikan, dan lain-lain.
  • Kebutuhan siswa: Kalender pendidikan harus memperhitungkan kebutuhan siswa, seperti jadwal ujian, jadwal kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain.
Penyusunan kalender pendidikan harus memperhatikan beberapa hal yang telah disebutkan di atas agar sekolah atau lembaga pendidikan dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kalender pendidikan, yaitu:

  • Koordinasi dengan pihak luar: Sekolah atau lembaga pendidikan harus terus koordinasi dengan pihak luar, seperti dinas pendidikan, pemerintah, dan lain-lain, untuk memastikan bahwa kalender pendidikan yang disusun sesuai dengan standar yang ditetapkan.
  • Konsultasi dengan stakeholder: Penyusunan kalender pendidikan harus dilakukan dengan melibatkan stakeholder, seperti guru, siswa, orangtua, dan lain-lain, agar tercipta kalender pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan semua pihak.
  • Pemantauan dan evaluasi: Setelah kalender pendidikan disusun, perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaannya. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa kalender pendidikan tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.
  • Revisi kalender pendidikan: Jika terdapat kendala atau masalah dalam pelaksanaan kalender pendidikan, maka perlu dilakukan revisi terhadap kalender tersebut agar sesuai dengan kebutuhan dan harapan semua pihak.
Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, ada beberapa tips yang dapat membantu dalam penyusunan kalender pendidikan yaitu:

  • Buatlah jadwal yang jelas dan terorganisir: Pastikan bahwa jadwal pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan lainnya disusun secara terstruktur dan terorganisir agar mudah dipahami oleh semua pihak.
  • Pastikan ada fleksibilitas: Jadwal yang terlalu ketat biasanya akan membuat siswa merasa tertekan dan tidak nyaman. Pastikan ada waktu istirahat yang cukup dan jadwal yang fleksibel agar siswa dapat memiliki waktu yang cukup untuk belajar dan beristirahat.
  • Koordinasi dengan pihak luar: Selain koordinasi dengan dinas pendidikan, pastikan juga terjadi koordinasi dengan pihak luar lainnya, seperti pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain. Hal ini akan membantu dalam penyusunan kalender pendidikan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.
  • Konsultasikan dengan stakeholder: Jangan lupa melibatkan stakeholder dalam proses penyusunan kalender pendidikan agar tercipta kalender yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan semua pihak.
  • Buatlah jadwal yang bisa diakses oleh semua pihak: Pastikan bahwa jadwal yang disusun dapat diakses oleh semua pihak, seperti guru, siswa, orangtua, dan lain-lain, agar mudah dipahami dan diketahui oleh semua orang.
Refleksi Pembelajaran dan Asesmen di Kurikulum Merdeka

Refleksi Pembelajaran dan Asesmen di Kurikulum Merdeka

Refleksi Pembelajaran dan Asesmen di Kurikulum Merdeka 

"Refleksi pembelajaran" dan "asesmen" adalah dua konsep yang berhubungan dengan proses belajar mengajar di sekolah. Refleksi pembelajaran adalah proses mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan dalam pembelajaran, serta mempertimbangkan bagaimana cara meningkatkan kualitas pembelajaran di masa mendatang. Asesmen, pada dasarnya, adalah proses menentukan sejauh mana seseorang telah memahami dan menguasai materi yang diajarkan.

Dalam Kurikulum Merdeka, pembelajaran dan asesmen merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Keduanya saling berkaitan dan bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana siswa telah mencapai kompetensi yang diharapkan.

Pembelajaran di Kurikulum Merdeka lebih menekankan pada pengembangan kompetensi siswa, bukan hanya pada pencapaian hasil belajar. Pembelajaran dilakukan secara aktif dan partisipatif, dengan menggunakan berbagai metode dan teknik yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Asesmen di Kurikulum Merdeka dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan. Asesmen tidak hanya dilakukan pada akhir periode belajar, tetapi juga selama proses belajar berlangsung. Asesmen dilakukan untuk mengevaluasi sejauh mana siswa telah mencapai kompetensi yang diharapkan.

Refleksi saya tentang pembelajaran dan asesmen di Kurikulum Merdeka adalah bahwa keduanya memberikan kesempatan yang sama bagi siswa untuk mengembangkan kompetensinya secara optimal. Pembelajaran yang aktif dan partisipatif membuat siswa lebih termotivasi untuk belajar, sementara asesmen yang kontinu dan berkelanjutan membantu siswa untuk memperbaiki kinerjanya dan mencapai kompetensi yang diharapkan.

Pembelajaran dan asesmen di Kurikulum Merdeka menekankan pada pembelajaran yang bersifat inkuiri dan kolaboratif. Guru diharapkan untuk memberikan ruang yang cukup bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Asesmen juga lebih difokuskan pada proses belajar siswa daripada hasil akhirnya, sehingga siswa dapat terus belajar dan berkembang secara individual.

Saya merasa bahwa Kurikulum Merdeka ini sangat membantu dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Dengan menggunakan metode inkuiri dan kolaboratif, siswa lebih terlibat dan tertantang dalam belajar. Mereka juga lebih berani untuk mengemukakan ide-idenya dan berdiskusi dengan teman sebaya.

Selain itu, asesmen yang lebih menekankan pada proses belajar juga membantu siswa untuk terus belajar dan berkembang secara individual. Mereka tidak terlalu terpaku pada hasil akhir yang harus dicapai, sehingga mereka lebih tertantang untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Overall, Kurikulum Merdeka memberikan pembelajaran yang lebih bermakna dan membantu siswa untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal. Saya sangat mendukung penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah.

Refleksi Pembelajaran dan Asesmen di Kurikulum Merdeka


Contoh Refleksi Pembelajaran Kurikulum Merdeka

Contoh refleksi pembelajaran Kurikulum Merdeka adalah sebagai berikut:

  1. Saya menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajaran, dimana saya memberikan contoh-contoh nyata dan mengajak siswa untuk melakukan eksperimen sendiri untuk memahami konsep yang diajarkan.
  2. Saya menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan dan menyenangkan, seperti bermain peran, permainan kartu, dan lain-lain, untuk membantu siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
  3. Saya mengajak siswa untuk berkolaborasi dan bekerja sama dalam kelompok kecil, sehingga mereka dapat saling bertukar ide dan membantu satu sama lain dalam belajar.
  4. Saya memberikan tugas-tugas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti menulis cerita, membuat poster, dan lain-lain, untuk meningkatkan keterampilan siswa dan membuat pembelajaran lebih menyenangkan.
  5. Saya selalu memberikan umpan balik yang bermanfaat dan memotivasi siswa untuk terus belajar dan meningkatkan prestasi mereka. Dengan demikian, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dan merasa senang dengan pembelajaran yang dilakukan.

Contoh Asesmen di Kurikulum Merdeka

Di Kurikulum Merdeka, asesmen merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Asesmen digunakan untuk mengukur kemajuan siswa dan membantu guru dalam menentukan tindak lanjut pembelajaran yang tepat. Berikut ini adalah beberapa contoh asesmen di Kurikulum Merdeka:

  1. Asesmen Formatif: Asesmen ini dilakukan secara terus-menerus selama proses pembelajaran untuk mengukur kemajuan siswa dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambil untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan. Contohnya, guru dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, atau menggunakan tugas-tugas kecil untuk mengevaluasi keterampilan siswa.
  2. Asesmen Sumatif: Asesmen ini dilakukan pada akhir periode pembelajaran untuk mengukur hasil belajar siswa secara keseluruhan. Contohnya, guru dapat menggunakan tes tertulis atau lisan untuk mengukur pengetahuan siswa tentang materi yang telah diajarkan, atau menggunakan proyek-proyek besar untuk mengukur keterampilan siswa dalam mengaplikasikan materi yang telah dipelajari.
  3. Asesmen Autentik: Asesmen ini bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi nyata. Contohnya, guru dapat menggunakan simulasi atau role play untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang sebenarnya, atau menggunakan portofolio untuk mengukur keterampilan siswa dalam berbagai bidang.

Dengan menggunakan berbagai jenis asesmen yang tepat, guru dapat membantu siswa belajar dengan lebih efektif dan mencapai hasil belajar yang maksimal.
Kurikulum Merdeka Belajar

Kurikulum Merdeka Belajar

Kurikulum Merdeka Belajar

Kurikulum Merdeka Belajar adalah sebuah kurikulum yang dikembangkan di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara tersebut. Kurikulum ini menekankan pada pengembangan keterampilan dan pengetahuan siswa melalui pendekatan yang lebih fleksibel dan berkaitan dengan kebutuhan dan minat siswa. Kurikulum ini juga menekankan pada pentingnya pendidikan karakter dan pengembangan kompetensi sosial siswa.

Kurikulum Merdeka Belajar



Kurikulum Merdeka Belajar adalah sebuah kurikulum yang menekankan pada pembelajaran yang merdeka dan mandiri. Kurikulum ini didesain untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kurikulum ini juga menekankan pada pendekatan yang terpadu dan interdisipliner, serta menggunakan metode pembelajaran yang beragam seperti proyek, diskusi, dan penelitian.

Kurikulum merdeka belajar adalah sebuah sistem pembelajaran yang memfokuskan pada kebebasan individu dalam memilih materi dan metode belajar yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Kurikulum ini mengutamakan pembelajaran yang berkarakter, berpusat pada siswa, dan menekankan pengembangan kreativitas dan kemandirian siswa

Kurikulum Merdeka Belajar adalah sebuah kurikulum yang memfokuskan pada pembelajaran yang berkualitas dan memberikan kebebasan bagi siswa untuk memilih dan mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan minat dan bakat mereka. Kurikulum ini didasarkan pada prinsip-prinsip belajar yang merdeka, seperti:

  1. Siswa memiliki kebebasan untuk memilih topik dan materi pembelajaran yang mereka inginkan.
  2. Siswa memiliki kebebasan untuk menentukan waktu, tempat, dan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
  3. Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan minat dan bakat mereka.
  4. Siswa memiliki kebebasan untuk mengevaluasi dan mengukur kemajuan belajar mereka sendiri.
  5. Siswa memiliki kebebasan untuk berkolaborasi dan berinteraksi dengan orang lain dalam proses pembelajaran.

Kurikulum Merdeka Belajar memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri dan mengembangkan keterampilan belajar yang lebih kreatif dan inovatif. Dengan demikian, siswa dapat memiliki kemampuan untuk mengadaptasi diri di dunia yang terus berubah.


Kurikulum Merdeka Belajar adalah sebuah sistem pendidikan yang memfokuskan pada kebebasan individu untuk belajar secara mandiri dan aktif. Kurikulum ini menekankan pada kemampuan individu untuk memilih dan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Kurikulum ini juga membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan problem-solving, kreativitas, dan kemandirian, sehingga mereka dapat menjadi individu yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila - Kurikulum Merdeka

Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila - Kurikulum Merdeka

Tema P5

Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila


Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Simak contoh P5 Kurikulum Merdeka, penjelasan apa saja contoh tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Berikut adalah Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila berdasarkan buku Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila


Kemendikbudristek menentukan Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk setiap projek profil yang diimplementasikan di satuan pendidikan. Dimulai pada tahun ajaran 2021/2022, terdapat empat tema untuk jenjang PAUD dan delapan tema untuk SD-SMK dan sederajat yang dikembangkan berdasarkan isu prioritas dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035, Sustainable Development Goals, dan dokumen lain yang relevan.


Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila jenjang PAUD

Pada jenjang PAUD, projek penguatan profil pelajar Pancasila bertujuan untuk pengayaan wawasan dan penanaman karakter sejak dini. Penguatan profil pelajar Pancasila dilaksanakan dalam konteks perayaan tradisi lokal, hari besar nasional, dan internasional. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menguatkan perwujudan enam karakter profil pelajar Pancasila pada fase fondasi. Untuk pelaksanaan kegiatan di PAUD, pemerintah menetapkan tema-tema utama yang dapat dikerucutkan menjadi topik oleh satuan pendidikan sesuai dengan konteks wilayah serta karakteristik peserta didik. tema di PAUD disusun berdasarkan prioritas nasional yang juga menjadi tema di Pendidikan Dasar dan Menengah namun disesuaikan dengan konteks PAUD. Tema-tema utama projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dapat dipilih oleh satuan PAUD adalah sebagai berikut:


Aku Sayang Bumi "Gaya Hidup Berkelanjutan"

Tema ini bertujuan untuk mengenalkan peserta didik pada isu lingkungan, eksplorasi dalam mencari solusi kreatif yang dapat dilakukan oleh peserta didik, serta memupuk kepedulian terhadap alam sebagai perwujudan rasa sayang terhadap ciptaan Tuhan YME. 

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Eksplorasi penyebab banjir di sekitar, membuat dan menghias tempat sampah dari barang bekas Membuat karya seni dari bahan alam

Aku Cinta Indonesia "Kearifan Lokal" 

Tema ini bertujuan agar peserta didik mengenal identitas dan karakteristik negara, keberagaman budaya dan ciri khas lainnya tentang Indonesia sehingga mereka memahami identitas dirinya sebagai anak Indonesia, serta bangga menjadi anak Indonesia. 

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Eksplorasi budaya nusantara dengan kunjungan ke museum budaya setempat


Kita Semua Bersaudara "Bhinneka Tunggal Ika"

Tema ini bertujuan mengajak peserta didik untuk mampu berinteraksi dengan teman sebaya, menghargai perbedaan, mau berbagi, dan mampu bekerja sama.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Membuat “minggu bertukar bekal” di mana peserta didik membawa bekal, menceritakan, dan menghargai makanan yang biasa dimakan di rumah masing-masing.


Imajinasi dan Kreativitasku "Rekayasa dan Teknologi"

Tema ini bertujuan mengajak peserta didik belajar mengenali dunianya melalui imajinasi, eksplorasi, dan eksperimen. Pada tema Imajinasi dan Kreativitasku, peserta didik distimulasi dengan serangkaian kegiatan yang dapat membangkitkan rasa ingin tahu, memperkaya pengalamannya dan menguatkan kreativitasnya. 

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Eksplorasi cara membuat kendaraan bersayap lalu bermain peran tentang terbang dengan kendaraan tersebut.




Tema P5 Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK dan sederajat


Tema-tema utama projek penguatan profil pelajar Pancasila yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan adalah sebagai berikut.


Gaya Hidup Berkelanjutan

Peserta didik memahami dampak aktivitas manusia, baik jangka pendek maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungan sekitarnya. Peserta didik juga membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang terjadi di lingkungan sekitarnya serta mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya. Tema ini ditujukan untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, dan sederajat. 

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Jakarta: situasi banjir
  • Kalimantan: hutan sebagai paru-paru dunia
  • Daerah pedesaan: pemanfaatan sampah organik


Kearifan Lokal

Peserta didik membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui eksplorasi budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar ataudaerah tersebut, serta perkembangannya. 

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Jawa Barat: sistem masyarakat di Kampung Naga
  • Papua: sistem masyarakat di Lembah Baliem
  • SMK tata kecantikan: eksplorasi seni pranata acara adat Jawa


Bhinneka Tunggal Ika

Peserta didik mengenal dan mempromosikan budaya perdamaian dan anti kekerasan, belajar membangun dialog penuh hormat tentang keberagaman serta nilai-nilai ajaran yang dianutnya. Peserta didik juga mempelajari perspektif berbagai agama dan kepercayaan, secara kritis dan reflektif menelaah berbagai stereotip negatif dan dampaknya terhadap terjadinya konflik dan kekerasan. Tema ini ditujukan untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, dan sederajat.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Menangkap isu-isu atau masalah keberagaman di lingkungan sekitar dan mengeksplorasi pemecahannya (contoh: kisah Bu Mondang di halaman …).


Bangunlah Jiwa dan Raganya

Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya. Peserta didik melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi. Tema ini ditujukan untuk jenjang SD/MI, SMP/ MTs, SMA/MA, SMK/MAK, dan sederajat.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Jenjang SMP/SMA dan setara: Mencari solusi untuk masalah cyber
  • bullying yang marak di kalangan remaja. Jenjang SMPLB/SMALB:
  • Pengembangan kemandirian dalam merawat diri dan menjaga Kesehatan


Suara Demokrasi

Peserta didik menggunakan kemampuan berpikir sistem, menjelaskan keterkaitan antara peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila. Melalui pembelajaran ini peserta didik merefleksikan makna demokrasi dan memahami implementasi demokrasi serta tantangannya dalam konteks yang berbeda, termasuk dalam organisasi sekolah dan/atau dalam dunia kerja. Tema ini ditujukan untuk jenjang SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, dan sederajat.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Sistem musyawarah yang dilakukan masyarakat adat tertentu untuk memilih kepala desa.


Rekayasa dan Teknologi

Peserta didik melatih daya pikir kritis, kreatif, inovatif, sekaligus kemampuan berempati untuk berekayasa membangun produk berteknologi yang memudahkan kegiatan diri dan sekitarnya. Peserta didik dapat membangun budaya smart society dengan menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat sekitarnya melalui inovasi dan penerapan teknologi, mensinergikan aspek sosial dan aspek teknologi. Tema ini ditujukan untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/ MAK, dan sederajat.

Contoh kontekstualisasi tema: 

  • Membuat desain inovatif sederhana yang menerapkan teknologiuntuk menjawab permasalahan di sekitar satuan pendidikan.


Kewirausahaan

Peserta didik mengidentifikasi potensi ekonomi di tingkat lokal dan masalah yang ada dalam pengembangan potensi tersebut, serta kaitannya dengan aspek lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kegiatan ini, kreativitas dan budaya kewirausahaan akan ditumbuhkembangkan. Peserta didik juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas. Tema ini ditujukan untuk jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan sederajat. (Karena jenjang SMK/MAK sudah memiliki mata pelajaran Projek Kreatif dan Kewirausahaan, maka tema ini tidak menjadi pilihan untuk jenjang SMK.) 

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Membuat produk dengan konten lokal yang memiliki daya jual.


Kebekerjaan

Peserta didik menghubungkan berbagai pengetahuan yang telah dipahami dengan pengalaman nyata di keseharian dan dunia kerja. Peserta didik membangun pemahaman terhadap ketenagakerjaan, peluang kerja, serta kesiapan kerja untuk meningkatkan kapabilitas yang sesuai dengan keahliannya, mengacu pada kebutuhan dunia kerja terkini. Dalam projeknya, peserta didik juga akan mengasah kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan standar yang dibutuhkan di dunia kerja. Tema ini ditujukan sebagai tema wajib khusus jenjang SMK/MAK.

Contoh kontekstualisasi tema:

  • Lampung: eksplorasi pengembangan serat tekstil dari limbah daun nanas
  • Kawasan industri sekitar Jakarta: budidaya dan pengolahan tanaman lokal Betawi


Konsep Alur Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Konsep Alur Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Konsep Alur Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Konsep Alur Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Berdasarkan modul tentang perangkat ajar yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, alur pembelajaran adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang disusun secara logis menurut urutan pembelajaran sejak awal hingga akhir suatu fase. Alur ini disusun secara linear sebagaimana urutan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari.


Konsep Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) - Jika Capaian Pembelajaran adalah kompetensi yang diharapkan dapat dicapai murid di akhir fase, maka Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah rangkaian tujuan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis di dalam fase pembelajaran.

  • Alur menjadi panduan guru dan murid untuk mencapai Capaian Pembelajaran di akhir suatu fase.
  • Tujuan pembelajaran disusun secara kronologis berdasarkan urutan pembelajaran dari waktu ke waktu.
  • Guru dapat menyusun ATP masing-masing, yang terdiri dari rangkaian tujuan pembelajaran.
  • Pemerintah akan menyediakan beberapa contoh ATP yang bisa langsung digunakan atau dimodifikasi, dan membuat panduan untuk penyusunan perangkat ajar.
Selain itu, alur tujuan pembelajaran ditetapkan seiring dengan mendukung adanya Profil Pelajar Pancasila. Pelajar Indonesia diharapkan menjadi pelajar sepanjang hayat, yang bisa kompeten dan memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Melalui profil pelajar Pancasila, siswa diharapkan memiliki budi pekerti luhur sesuai dengan tujuan dan cita-cita Pancasila.

Konsep Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Konsep Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Konsep Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Konsep Tujuan Pembelajaran - Kurikulum Merdeka

Tujuan pembelajaran adalah deskripsi pencapaian tiga aspek kompetensi, yakni pengetahuan, keterampilan, dan sikap, yang diperoleh murid dalam satu atau lebih kegiatan pembelajaran.


Tujuan pembelajaran disusun dengan memperhatikan eviden atau bukti yang dapat diamati dan diukur pada murid, sehingga murid dapat dinyatakan mencapai suatu tujuan pembelajaran.


Penulisan tujuan pembelajaran sebaiknya memuat 2 komponen utama, yaitu kompetensi dan lingkup materi.


1. Kompetensi

Kompetensi merupakan kemampuan yang perlu didemonstrasikan oleh murid untuk menunjukkan dirinya telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Pertanyaan panduan yang bisa digunakan guru dalam menyusun tujuan pembelajaran, antara lain:

  • Secara konkret, kemampuan apa yang perlu didemonstrasikan oleh murid?
  • Tahap berpikir apa yang perlu didemonstrasikan oleh murid?

2. Lingkup materi

Lingkup materi merupakan konten dan konsep utama yang perlu dipahami pada akhir satu unit pembelajaran. Pertanyaan panduan yang bisa digunakan guru dalam menyusun tujuan pembelajaran, antara lain:

  • Hal apa saja yang perlu dipelajari murid dari suatu konsep besar yang dinyatakan dalam CP?
  • Apakah lingkungan sekitar dan kehidupan keseharian murid dapat digunakan sebagai konteks untuk mempelajari konten dalam CP? (misal: proses pengolahan hasil panen digunakan sebagai konteks untuk belajar tentang persamaan linear di SMA)

Contoh Capaian Pembelajaran:

Menganalisis hubungan antara kegiatan manusia dengan perubahan alam di permukaan bumi dan menarik kesimpulan penyebab-penyebab utamanya (akhlak kepada alam).


Catatan:

Kompetensi (kata kerja yang menunjukkan keterampilan/aksi) –> menganalisis, menarik kesimpulan

Konten (materi yang dipelajari) —> hubungan kegiatan manusia dengan perubahan alam (akhlak kepada alam)

Pembelajaran Berbasis Projek di SMK

Pembelajaran Berbasis Projek di SMK

Pembelajaran Berbasis Projek di SMK


Pembelajaran Berbasis Projek di SMK

Definisi Pembelajaran Berbasis Projek

Pembelajaran berbasis projek adalah pembelajaran yang menggunakan projek sebagai media dalam proses pembelajaran untuk mencapai soft skills, hard skills, dan karakter.


Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas-aktivitas murid dalam menghasilkan produk yang menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, hingga mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata.


Produk yang dimaksud adalah hasil projek berupa barang atau jasa dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain.


Tujuan Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Projek:

  1. Meningkatkan kepercayaan dunia kerja terhadap SMK dan tamatan SMK
  2. Mendukung sertifikasi kompetensi murid oleh industri
  3. Meningkatkan produktivitas SMK berbasis produk standar industri
  4. Merancang pembelajaran yang seimbang dalam pembekalan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
  5. Mudah memusatkan perhatian murid dalam belajar pada satu projek
  6. Meningkatkan efektifitas pembelajaran, karena semua mata pelajaran/kompetensi yang relevan dipelajari dalam projek yang sama
  7. Memiliki penguasaan kompetensi lebih mendalam dan berkesan
  8. Mengarahkan murid agar mampu bekerja dengan profesional di dunia kerja
  9. Menyiapkan murid agar memiliki kompetensi teknis (hard skills)
  10. Membudayakan budaya kerja industri, terutama budaya mutu, efisiensi, dan kreativitas
  11. Memberikan wahana pengalaman belajar murid dengan pengalaman berhasil

Prinsip Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Projek:

  1. Kerja sama produk dan pembelajaran sekolah dengan dunia kerja
  2. Pembelajaran melalui projek riil dari dunia kerja dengan memperhatikan nilai ekonomis dan ketepatan waktu penyerahan produk
  3. Proses pembelajaran rangkaian projek utuh dari analisis order sampai layanan purna jual (layanan setelah jual-beli)
  4. Kolaborasi antar mata pelajaran sesuai kompetensi/elemen kompetensi capaian pembelajaran
  5. Keseimbangan kompetensi hard skill, soft skill, dan karakter
  6. Pengembangan budaya kerja dunia kerja
  7. Pemanfaatan fasilitas dunia kerja

Implementasi

  1. Pembelajaran berbasis projek dilaksanakan melalui projek yang merupakan order dari dunia kerja, atau kreativitas guru dan murid dalam menghasilkan produk unggulan SMK.
  2. Berdasarkan order, sekolah melaksanakan analisis untuk memastikan apakah pekerjaan dapat dilaksanakan atau tidak, dengan memperhatikan penguasaan kompetensi (capaian pembelajaran) murid dan guru, serta fasilitas sekolah.
  3. Jika berdasarkan analisis pekerjaan dapat dilaksanakan, selanjutnya dilakukan persiapan dan pelaksanaan pembelajaran.
  4. Proses pembelajaran menyatu pada proses produksi/layanan jasa. Secara kontekstual, murid diberikan pengalaman belajar pada situasi yang nyata dengan suasana dunia kerja.
  5. Pembelajaran berisikan beberapa atau seluruh kompetensi pada satu mata pelajaran atau antar mata pelajaran SMK sesuai projek.
  6. Murid belajar mulai dari menganalisis spesifikasi dan persyaratan produk (barang/jasa) order dari dunia kerja/permintaan pasar, perencanaan dan proses produksi, evaluasi proses, penilaian hasil produksi, penjaminan mutu produk, pemasaran, distribusi, hingga pelayanan purna jual (layanan setelah jual-beli).

Prinsip Pembelajaran dan Asesmen - Kurikulum Merdeka

Prinsip Pembelajaran dan Asesmen - Kurikulum Merdeka

Prinsip Pembelajaran dan Asesmen - Kurikulum Merdeka


Prinsip Pembelajaran dan Asesmen

Prinsip Pembelajaran - Pembelajaran merupakan proses interaksi antara murid, guru, dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Prinsip pembelajaran pada Kurikulum Merdeka adalah sebagai berikut:


Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian murid, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan murid yang beragam. Dengan demikian, pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. 

Contoh:

  • Pada awal tahun ajaran, guru berusaha mencari tahu kesiapan belajar murid dan pencapaian sebelumnya. Misal: melalui dialog dengan murid, sesi diskusi kelompok kecil, tanya jawab, pengisian survei/angket, dan/atau metode lainnya yang sesuai.
  • Guru merancang atau memilih ATP sesuai dengan tahap perkembangan murid, atau mengacu ke tahap awal. Guru bisa menggunakan atau mengadaptasi contoh tujuan pembelajaran, ATP, dan modul ajar yang disediakan oleh Kemendikbudristek.
Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas murid menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Contoh:

  • Guru mendorong murid untuk melakukan refleksi untuk memahami kekuatan diri dan area yang perlu dikembangkan.
  • Guru senantiasa memberikan umpan balik langsung yang mendorong kemampuan murid untuk terus belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan.

Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter murid secara holistik.

Contoh:

  • Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran yang bervariasi dan untuk membantu murid mengembangkan kompetensi. Misal: belajar berbasis inkuiri, berbasis projek, berbasis masalah, dan pembelajaran terdiferensiasi.
  • Guru merefleksikan proses dan sikapnya untuk memberi keteladanan dan sumber inspirasi positif bagi murid.

Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan, dan budaya murid, serta melibatkan orang tua dan komunitas sebagai mitra.

Contoh:

  • Guru menyelenggarakan pembelajaran sesuai kebutuhan dan dikaitkan dengan dunia nyata, lingkungan, dan budaya yang menarik minat murid.
  • Guru merancang pembelajaran interaktif untuk memfasilitasi interaksi yang terencana, terstruktur, terpadu, dan produktif antara guru dan murid, sesama murid, serta antara murid dan materi belajar.

Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

Contoh:

  • Guru berupaya untuk mengintegrasikan prinsip kehidupan keberlanjutan (sustainable living) pada berbagai kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai dan perilaku yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan bumi. Misal: menggunakan sumber daya secara bijak (hemat air, listrik, dll.), mengurangi sampah.
  • Guru memotivasi murid untuk menyadari bahwa masa depan adalah milik mereka, sehingga mereka perlu mengambil peran dan tanggung jawab untuk masa depan mereka.

Prinsip Asesmen

Asesmen atau penilaian merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar murid. Prinsip asesmen adalah sebagai berikut:


Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi pembelajaran, dan penyediaan informasi yang holistik, sebagai umpan balik untuk guru, murid, dan orang tua/wali agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya.

Contoh:

  • Guru menguatkan asesmen di awal pembelajaran yang digunakan untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kesiapan murid.
  • Guru merencanakan pembelajaran dengan merujuk pada tujuan yang hendak dicapai dan memberikan umpan balik agar murid menentukan langkah untuk perbaikan ke depannya.

Asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran.

Contoh:

  • Guru memikirkan tujuan pembelajaran pada saat merencanakan asesmen dan memberikan kejelasan pada murid mengenai tujuan asesmen di awal pembelajaran.
  • Guru menggunakan teknik asesmen yang beragam sesuai dengan fungsi dan tujuan asesmen. Hasil dari asesmen formatif digunakan untuk umpan balik pembelajaran, sementara hasil dari asesmen sumatif digunakan untuk pelaporan hasil belajar.

Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan tentang langkah selanjutnya, dan sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai ke depannya.

Contoh:

  • Guru menyediakan waktu dan durasi yang cukup agar asesmen menjadi sebuah proses pembelajaran dan bukan hanya untuk kepentingan menguji.
  • Guru menentukan kriteria sukses dan menyampaikannya pada murid, sehingga mereka memahami ekspektasi yang perlu dicapai.

Laporan kemajuan belajar dan pencapaian murid bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai, serta strategi tindak lanjut.

Contoh:

  • Guru menyusun laporan kemajuan belajar secara ringkas, mengutamakan informasi yang paling penting untuk dipahami oleh murid dan orang tua.
  • Guru memberikan umpan balik secara berkala kepada murid dan mendiskusikan tindak lanjutnya bersama-sama, serta melibatkan orang tua.

Hasil asesmen digunakan oleh murid, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Contoh:

  • Guru menyediakan waktu untuk membaca, menganalisis, dan melakukan refleksi hasil asesmen.
  • Guru menggunakan hasil asesmen sebagai bahan diskusi untuk menentukan hal-hal yang sudah berjalan baik dan area yang perlu diperbaiki.

Satuan pendidikan memiliki strategi agar hasil asesmen digunakan sebagai refleksi oleh murid, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua untuk meningkatkan mutu pembelajaran.


Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Teaching at The Right Level

Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Teaching at The Right Level

Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Teaching at The Right Level

Pembelajaran Sesuai Tahap Capaian Belajar - Pembelajaran sesuai tahap capaian belajar murid (teaching at the right level) adalah pendekatan belajar yang berpusat pada kesiapan belajar murid, bukan pada tingkatan kelas.


Apa tujuan pembelajaran ini?

  • Sebagai bentuk implementasi filosofi ajar Ki Hadjar Dewantara yang berpusat pada murid
  • Menguatkan kompetensi numerasi dan literasi murid
  • Agar setiap murid mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan

Bagaimana pembelajaran dilakukan?

Murid dalam fase perkembangan yang sama bisa memiliki tingkat pemahaman dan kesiapan yang berbeda. Karena itu, pada model pembelajaran ini, cara dan materi pembelajaran divariasikan berdasarkan tingkat pemahaman dan kesiapan murid.


Apa itu fase perkembangan?

Fase atau tingkatan perkembangan adalah capaian pembelajaran yang harus dicapai murid, yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi, serta kebutuhannya.


SD, SMP, SMA, SMK (MI, MTs, MA, MAK)

  • Fase A: SD/MI kelas 1–2
  • Fase B: SD/MI kelas 3–4
  • Fase C: SD/MI kelas 5–6
  • Fase D: SMP/MTs kelas 7–9
  • Fase E: SMA/MA, SMK/MAK kelas 10
  • Fase F: SMA/MA, SMK/MAK kelas 11–12

Sekolah Luar Biasa

  • Fase A: usia mental ≤ 7 tahun
  • Fase B: usia mental ± 8 tahun
  • Fase C: usia mental ± 8 tahun
  • Fase D: usia mental ± 9 tahun
  • Fase E: usia mental ± 10 tahun
  • Fase F: usia mental ± 10 tahun

Sinkronisasi Jenjang, Usia Mental, dan Usia Kronologis

Fase A

  • Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 1–2)
  • Usia kronologis: ≤ 6–8 tahun
  • Usia mental: ≤ 7 tahun

Fase B

  • Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 3–4)
  • Usia kronologis: 9–10 tahun
  • Usia mental: ± 8 tahun

Fase C

  • Jenjang/kelas: SD/MI (kelas 5–6)
  • Usia kronologis: 11–12 tahun
  • Usia mental: ± 8 tahun

Fase D

  • Jenjang/kelas: SMP/MTs (kelas 7–9)
  • Usia kronologis: 13–15 tahun
  • Usia mental: ± 9 tahun

Fase E

  • Jenjang/kelas: SMA/MA, SMK/MAK (kelas 10)
  • Usia kronologis: 16–17 tahun
  • Usia mental: ± 10 tahun

Fase F

  • Jenjang/kelas: SMA/MA, SMK/MAK (kelas 11–12)
  • Usia kronologis: 17–23 tahun
  • Usia mental: ± 10 tahun

Bagaimana cara menentukan kemajuan hasil belajar?

Kemajuan hasil belajar murid dilakukan melalui evaluasi pembelajaran atau asesmen. Murid yang belum mencapai capaian pembelajaran akan mendapatkan pendampingan agar mencapai capaian pembelajarannya.


Bagaimana tahapan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen?

Perencanaan

Guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, yang mencakup rencana asesmen formatif yang akan dilakukan di awal pembelajaran dan asesmen sumatif di akhir pembelajaran.


Asesmen Awal Pembelajaran

  • Asesmen awal bertujuan untuk untuk menilai kesiapan masing-masing murid untuk mempelajari materi yang telah dirancang.
  • Dengan demikian, guru bisa melakukan pengelompokkan murid berdasarkan tingkat kesiapan yang sama.

Pembelajaran

  • Selama proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen formatif secara berkala.
  • Di akhir proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen sumatif sebagai proses evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini juga bisa digunakan sebagai asesmen awal pada pembelajaran berikutnya.